Istri Teroris Ali Kalora Dihukum 2,5 Tahun Penjara

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 15:50 WIB
Gedung Pengadilan Tinggi Jakarta
Gedung PT DKI Jakarta (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Istri teroris Ali Kalora, Lasmi (29), dihukum 2,5 tahun penjara. Lasmi dinyatakan bersalah melanggar UU Terorisme karena tidak melaporkan keberadaan suaminya ke aparat.

Hal itu tertuang dalam Putusan Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta, Kamis (29/9/2021). Lasmi awalnya dinikahi Azis Papa Sifa yang juga anak buah Santoso alias Abu Wardah. Azis tewas saat baku tembak dengan anggota Polri di Gayatri, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Akhirnya Lasmi dinikahi Ali Kalora pada Maret 2020. Setelah itu, Lasmi intens berkomunikasi dengan suaminya menggunakan aplikasi Telegram. Selain itu, Lasmi menjadi penghubung antara pengikut Ali Kalora dan membuka rekening bank.

Ali pernah mengirim video ke Lasmi. Dalam video itu, Ali menggorok leher seorang warga hingga putus.

"Sehingga sepatutnya terdakwa melaporkan informasi mengenai Ali Kalora dan kelompoknya yang tergabung dalam kelompok MIT kepada pihak kepolisian namun terdakwa tidak melaporkan informasi perbuatan terorisme tersebut kepada pihak kepolisian," demikian urai jaksa.

Akhirnya Lasmi ditangkap Densus 88 dan diproses hingga pengadilan. Pada 18 Agustus 2021, Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) menjatuhkan hukuman 2,5 tahun penjara kepada Lasmi. Vonis itu lebih rendah dari tuntutan jaksa yang menuntut 4 tahun penjara. Alhasil, jaksa mengajukan banding.

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur yang dimintakan banding tersebut," kata ketua majelis Siti Farida dengan anggota Amin Sembiring dan Aroziduhu Waruwu.

Majelis banding menyatakan hakim tingkat pertama telah tepat dan benar dan tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum yang menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dakwaan alternatif pertama.

"Karena ternyata pertimbangan hukum dalam putusan Majelis Hakim Pengadilan Tingkat pertama telah sesuai dengan fakta hukum yang ada di persidangan, oleh karena itu pertimbangan hukum dalam putusan Pengadilan Tingkat pertama tersebut diambil alih dan dijadikan pertimbangan hukum sendiri oleh Pengadilan Tinggi dalam memeriksa dan memutus perkara a quo, serta menjadi bagian dan telah termasuk dalam putusan ini," ujar majelis.

Bagaimana dengan Ali Kalora? Ali tewas diterjang peluru panas Satgas Madago Raya. Ali Kalora tewas tertembak bersama anak buahnya, Jaka Ramadhan.

"Ya, ada 6 DPO. Tertembak 2, sisa 4 orang ini orang Bima semuanya, simpatisan yang terpengaruh konflik Poso zaman dahulu, termasuk kelompok Santoso dulu," ujar Irjen Rudy.

Jejak Kekejaman Ali Kalora

Ali Kalora cs punya reputasi buruk meneror warga. Pada akhir 2018, komplotannya memutilasi penambang emas.

Peristiwa itu terjadi di Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kepala korban ditemukan terpisah dari tubuh lainnya pada 30 Desember 2018.

Sehari berselang, polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Usai melakukan olah TKP, personel Polda Sulawesi Tengah bernama Bripka Andrew dan Bripda Baso ditembak oleh komplotan Ali Kalora. Dua polisi itu terluka tapi tetap selamat.
Pada 27 November 2020, Ali Kalora memimpin gerombolan MIT melakukan pembunuhan di Dusun Lewonu, Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Ali Kalora cs membunuh empat orang dengan sadis, yakni menggorok leher. Ada pula yang dibakar. Satu bangunan dibakar. Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Abdul Rakhman Baso menyebut bangunan yang dibakar bukanlah gereja namun rumah yang biasa dijadikan tempat pelayanan umat.

Jejak sadisnya bisa diperpanjang sampai ke belakang, saat Santoso masih hidup dan memimpin MIT. Berikut adalah catatan yang dikutip dari buku 'Ancaman Virus Terorisme: Jejak Teror di Dunia dan Indonesia' karya Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan.

MIT mendapat perhatian internasional setelah mereka membunuh dua polisi pada 16 Oktober 2012. Polisi itu adalah Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman, tewas di Dusun Tamanjeka, Desa Masani.

Pada 20 Desember 2012, tiga anggota Polri tewas setelah ditembak dari belakang saat patroli di Desa Kalora, desa tempat Ali Kalora lahir. Briptu Ruslan, Briptu Winarto, dan Briptu Wayan Putu Ariawan tewas karena luka tembak yang parah, termasuk di kepala dan dada.

Pada 2015, kelompok MIT membunuh tiga warga di Desa Tangkura. Mereka tewas mengenaskan dengan luka tembak. Korban atas nama Dolfi Moudi Alipa (22), Aditya Tetembu (58), dan Hery Tobio.

Polri pernah menjelaskan soal jejak sadis Ali Kalora, termasuk saat masih bersama Santoso. Santoso-Ali Kalora cs di MIT beraksi sejak 2011 dan menimbulkan banyak korban jiwa.

"Dalam waktu kurang lebih 8 tahun, berdasarkan data yang terhimpun, kelompok teroris Santoso-Ali Kalora cs telah melakukan aksi teror sebanyak 22 aksi. Korban meninggal dunia dari Polri sebanyak 8 personel dan warga sipil 16 orang," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, ketika dihubungi detikcom, 5 Januari 2019.

Sebanyak 24 orang meninggal dunia akibat teroris Santoso-Ali Kalora. Itu adalah keterangan awal tahun 2019. Bila digabung dengan jejak berdarah Ali Kalora selepas 2019, jumlah korban jiwa akibat ulah Ali Kalora cs bakal tambah banyak.