Sejarah Masjid Raya Makassar, Tempat Kumpul Pejuang Lawan Belanda

Hermawan Mappiwali - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 14:08 WIB
Masjid Raya Makassar. (Hermawan/detikcom)
Masjid Raya Makassar (Hermawan/detikcom)
Makassar -

Masjid Raya Makassar belum lama ini menjadi sorotan publik usai seorang pemuda berinisial KB (22) membakar mimbar hingga Al-Qur'an di dalamnya. Ternyata masjid ini merupakan saksi bisu sejarah, mulai dari tempat para pejuang berkumpul untuk melawan tentara KNIL Belanda hingga tempat diselenggarakannya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional pertama kali.

Sekretaris Masjid Raya Makassar Muh. Said mengatakan masjid ini pertama kali dibangun pada 1947. Masjid ini pada awalnya diberi nama 'Masjid Perjuangan' karena jadi tempat melawan Belanda.

"Memang masjid ini dijadikan tempat perjuangan melawan KNIL (tentara Kerajaan Hindia Belanda), Belanda kan lewat mi, yang datang itu adalah KNIL, orang-orangnya juga Belanda. Dia mau kembali supaya penjajahan tetap," ucap Said saat berbincang dengan detikcom, Selasa (28/9/2021).

Masjid Raya Makassar. (Hermawan/detikcom)Masjid Raya Makassar (Hermawan/detikcom)

Saat pertama kali dibangun, lanjut Said, Masjid Raya Makassar hanya terdiri dari satu lantai, yang mana panitia pembangunannya berjumlah 28 orang dan dipimpin ulama asal Sumatera Barat, H. Mukhtar Luthfi. Seorang warga Belanda ternyata juga turut terlibat sebagai panitia pembangunan masjid saat itu.

"Panitia pembangunannya tahun 1947 itu orang Belanda yang bikin, bersama orang orang Sulawesi Selatan. Karena dia (orang Belanda) itu yang pintar soal bangunan," ucap Said.

Ketua Masjid Raya Makassar Mukhtar Luthfi Gugur Ditembak Belanda

Said juga mengungkapkan peristiwa yang menimpa ketua panitia pembangunan Masjid Raya Maksud Mukhtar Lutfi yang gugur usai ditembak KNIL.

"Datang KNIL, ditembak ketuanya di sini, orang Sumatera itu, Mukhtar Lutfi," tutur Said.

Masjid Raya Makassar. (Hermawan/detikcom)Masjid Raya Makassar tampak dari dalam. (Hermawan/detikcom)

Dia mengatakan ulama Minangkabau itu awalnya melakukan pidato di Masjid Raya Makassar pada 1950. Said menyebut Mukhtar, yang juga ketua masjid, berpidato agar tak ada pedagang yang berjualan makanan ke asrama KNIL.

"Dia bilang jangan ada penjual sayur, ikan, beras di dalam asrama itu, asrama KNIL. Dia pidato, bahwa jangan ada penjual makanan ikan, sayur, beras di daerah itu," ungkapnya.

Pidato tersebut ternyata membuat KNIL marah dan mencari sang ulama. Luthfi lalu ditemukan di rumahnya sehingga langsung ditembak.

"Di lantai 1 di situ pidato Mukhtar Luthfi, malamnya itu ditembak di rumahnya," ucap Said.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.