Koster Kritik Kebijakan Garam Beryodium Era Soeharto: Rugikan Petani!

Sui Suadnyana - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 10:45 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat mengkritik kebijakan garam beryodium era Soeharto. (tangkapan layar Youtube Pemprov Bali)
Gubernur Bali Wayan Koster saat mengkritik kebijakan garam beryodium era Soeharto. (tangkapan layar Youtube Pemprov Bali)
Denpasar -

Gubernur Bali Wayan Koster mengkritik kebijakan garam beryodium yang dibuat Presiden RI ke-2 Soeharto melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 69 Tahun 1994. Menurut Koster, Keppres itu telah membuat petani garam, khususnya petani lokal di Bali, merugi.

Koster melanjutkan kebijakan garam beryodium telah membuat petani garam lokal di Bali tidak bisa menjual garamnya ke pasar modern. Dia lalu menyiasati masalah tersebut dengan mengeluarkan Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 17 Tahun 2021 tentang pemanfaatan produk garam tradisional lokal Bali.

"Mengapa saya mengeluarkan kebijakan ini? Karena saya mendapat laporan banyak garam kita di Bali diolah secara tradisional oleh petani garam, itu yang sesungguhnya mutunya sangat bagus, khas lagi cita rasanya, tidak bisa dijual ke pasar modern," kata Koster saat pencanangan regulasi tersebut yang dikutip detikcom dari kanal YouTube Pemerintah Provinsi Bali, Selasa (28/9/2021).

"Lacak, lacak, lacak, baca-baca, ketemu regulasinya. Ternyata ada Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 1994 yang ditandatangani Pak Harto tentang penyediaan garam beryodium," terang Koster.

Koster menduga kebijakan tersebut diambil kemungkinan karena dahulu terdapat kasus orang terkena penyakit gondok dan stunting yang salah satu penyebabnya diduga karena kurangnya yodium dalam kandungan garam. Lantas dibuatlah kebijakan yang berlaku secara nasional, padahal kondisi dan tradisi mengolah garam di daerah berbeda-beda.

Terlebih menurut Koster, keberadaan garam Bali sangat bagus sekali, seperti di Tejakula, Buleleng, Amed, Karangasem, dan Gumbrih Jembrana. Ia pun mengaku sempat berbicara dengan Menteri Kelautan dan Perikanan soal regulasi garam tersebut.

"Nah karena itu saya sempat berbicara dengan Menteri Kelautan dan Perikanan. Beliaulah yang membuka ini, soal garam beryodium ini. Ternyata ada regulasinya, jadi karena itu menurut saya regulasinya ini tidak benar," tegas Koster.

Sebab, jika karena alasannya kurang yodium, banyak masyarakat di Bali, khususnya Buleleng, Karangasem, dan Klungkung yang terkena penyakit gondok dan stunting.

"Apalagi saya dari desa pegunungan, yang dari kecil makan garam, pasti garamnya nggak jauh-jauh, pasti garam dari sini. Kalau karena (alasan tidak ada yodium) itu orang jadi gondok, pasti banyak yang gondok di Bali, pasti ramai-ramai gondok orangnya atau ramai-ramai stunting," jelas Koster.

"Jadi sangat tidak masuk akal kalau dibilang bahwa garam Bali ini kurang kadar yodiumnya, (tidak banyak orang gondok dan stunting di Bali) itu bukti empiris ini, karena sudah dari zaman-zaman ke zaman, turun-temurun garam ini dimanfaatkan dikonsumsi," imbuhnya.

Selain ada Keppres Nomor 69 Tahun 1994 tentang penyediaan garam beryodium, terdapat aturan turunannya, yakni Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Tahun 2013 mengenai penunjukan lembaga untuk melakukan sertifikasi dalam rangka penerbitan SNI. Menurut Koster, aturan inilah yang kemudian menjadi patokan di seluruh Indonesia sehingga pasar modern tidak lagi memperdagangkan garam yang tidak memakai sertifikat SNI.

"Sehingga garam kita di Bali tidak bisa masuk ke pasar modern karena adanya aturan SNI. Karena itu saya sudah menyikapi ini, ini ndak bener. Karena ternyata garam kita beberapa hotel, restoran makek dan rasanya cita rasanya itu khas, enak sekali, dikasih yodium malah jadi tidak enak," tuturnya.

"Bahkan sampai ekspor ke sejumlah negara sangat diminati garam ini, apalagi yang dari Tejakula itu, katanya itu bisa kalau orang rematik itu bisa bisa juga jadi sehat itu. Jadi karena itu ini ada yang nggak beres dengan regulasi kita yang merugikan petani kita sebagai negara maritim," tegas Koster.

Simak juga 'Melihat Penerapan Ganjil-Genap Hari Pertama di Bali':

[Gambas:Video 20detik]



(nvl/nvl)