Kalah Lawan Eks 2 Warek, Rektor UIN Jakarta Amany Lubis Ajukan Banding

Andi Saputra - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 09:06 WIB
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Amany Lubis
Foto: Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Amany Lubis (tengah). (Dokumen www.uinjkt.ac.id)
Jakarta -

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Amany Lubis, mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Jakarta. Sebab, Amany kalah melawan 2 mantan wakil rektor (Warek) yang dipecatnya, Andi M Faisal Bakti dan Masri Mansoer.

Sebagaimana dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Serang, Senin (27/9/2021), Amany mengajukan banding pada Jumat (24/9) lalu. Banding diajukan atas putusan Nomor 31/G/2021/PTUN.SRG dengan tergugat Andi Faisal Bakti dan Nomor 32/G/2021/PTUN.SRG dengan tergugat Masri Mansoer. Adapun alasan banding Amany Lubis belum dilansir oleh PTUN Serang.

Sebagaimana diketahui, kasus bermula saat muncul Gerakan UIN Bersih 2.0. Gerakan ini membuat petisi agar Rektor UIN Jakarta, Amany Lubis, bertanggungjawab atas sejumlah proyek pembangunan. Petisi ini ditandatangani 126 dosen dan ditujukan kepada Ketua Senat UIN Jakarta.

Di sisi lain, muncul juga laporan UIN Watch ke Polda Metro Jaya atas sengkarut. Rektor Amany Lubis tidak terima atas gonjang-ganjing di atas. Amany menuding wakilnya ada di belakang layar gerakan tersebut.

"Bahwa berdasarkan tangkapan layar (screen shoot) pesan WhatsApp, didapati peran Penggugat untuk mengumpulkan dukungan tandatangan sebanyak 124 dosen Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 2 orang tenaga pendidikan non PNS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tergabung dalam gerakan UIN Bersih 2.0, dalam pengaduan dan permohonan klarifikasi kepada Senat Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tanpa sepengetahuan Tergugat (Rektor-red)," kata Rektor Amany Lubis dalam jawaban di pengadilan.

Atas dugaan itu, Amany memecat Andi dan Masri dari kursinya. Keduanya tidak terima dan melawan ke PTUN Serang. Gayung bersambut, Amany kalah.

PTUN Serang menilai pemecatan itu didasarkan pada 'dugaan' bahwa penggugat terlibat sebagai saksi dalam laporan polisi dan juga diyakini Penggugat memiliki peran untuk mengumpulkan dukungan 126 tandatangan atas laporan Gerakan UIN Bersih 2.0 kepada Senat.

"Yang mana hanya didasarkan oleh bukti screen shoot pesan WhatsApp. Menurut majelis hakim tindakan Tergugat (Rektor-red) tidaklah berdasar dan telah melanggar asas tidak menyalahgunakan kewenangan, di mana dalam asas tersebut mewajibkan setiap badan/pejabat pemerintahan tidak menggunakan kewenangannya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan yang lain dan tidak sesuai dengan tujuan pemberian kewenangan tersebut, tidak melampaui, tidak menyalahgunakan, dan/atau tidak mencampuradukkan kewenangan," beber PTUN Serang.

Oleh sebab itu, majelis PTUN Serang merehabilitasi nama baik Andi-Masri dan memerintahkan Rektor UIN Jakarta mengangkat kembali keduanya sebagai wakil rektor.

"Mengadili. Dalam pokok sengketa. Mengabulkan Gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan Batal Keputusan Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor: 168 Tahun 2021 Tentang Pemberhentian dengan hormat Prof. Dr. Andi M. Faisal Bakti, M.A., dari jabatan Wakil Rektor Bidang Kerjasama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Masa Jabatan 2019-2023 tanggal 18 Februari 2021," demikian bunyi putusan PTUN Serang.

Lihat juga video 'Rektor UIN Suska Jawab Isu soal UAS dan Pengunduran Diri sebagai PNS':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/fas)