BMKG Prediksi Hujan Es di Depok Terjadi Sampai Awal Oktober

Arief Ikhsanudin - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 19:05 WIB
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan soal hujan es yang terjadi lagi di Kota Depok kurang dari sepekan. Menurut BMKG, fenomena ini merupakan fenomena di masa transisi.

"(Diperkirakan akan terjadi) sampai memasuki musim hujan. Fenomena tersebut lebih sering terjadi pada periode transisi dari musim kemarau ke hujan," ucap Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Bogor Indra Gustari, Minggu (26/9/2021).

Menurut Indra, kemungkinan fenomena hujan es di Depok akan terjadi sampai Oktober. Fenomena ini akan berhenti ketika memasuki musim hujan.

"Jadi, potensinya sampai awal bulan Oktober, seiring dengan awal musim yang sudah masuk di daerah tersebut," katanya.

Masyarakat Depok pun diminta waspada karena hujan es mungkin memiliki daya rusak.

"Kalau ukurannya cukup besar, bisa merusak. Jika menimpa material yang tidak kuat, dapat menimbulkan kerusakan, misalnya pada atap rumah atau tanaman," katanya.

Diketahui, hujan mengguyur Kota Depok, Minggu (26/9/2021). Butiran es ikut turun bersamaan dengan air hujan. Fenomena ini sudah 2 kali terjadi dalam sepekan.

Hujan disertai butiran es terjadi di Kampung Serab, Kelurahan Tirtajaya, Kecamatan Sukmajaya, sekitar pukul 16.00 WIB. Pletak-pletok! Butiran es sebesar kelereng jatuh ke genting dan jalanan.


Penyebab Terjadinya Hujan Es dan Puting Beliung di Depok

Diketahui, pada Selasa (21/9), terjadi hujan es disertai angin kencang. BMKG menyebut hujan angin dan hujan es merupakan fenomena menjelang musim hujan.

"Hujan es dan puting beliung lebih sering terjadi menjelang dan awal musim hujan. Saat radiasi matahari kuat sampai permukaan bumi dan uap air di atmosfer juga sudah mulai tinggi," kata Indra Gustari, saat dihubungi, Rabu (22/9).

Menurut Indra, fenomena itu terjadi pada waktu-waktu tertentu. Khususnya pada siang atau sore.

"Kedua fenomena tersebut umumnya terjadi pada siang atau sore hari yang diawali dengan berkembangnya awan konvektif yang kuat," katanya.

(aik/dhn)