Ondos, Pejuang Politik Anggaran Bukan Mencari Anggaran Politik

Sudrajat - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 09:04 WIB
Isteri mendiang Ondos (Theodorus Jacob Koekertis), politisi PDI Perjuangan
Maria Silabakti, istri mendiang Ondos (Theodorus Jacob Koekertis), politisi PDI Perjuangan. (Dok. Untung Widyanto via FB)
Jakarta -

Ketika Ketua Umum PDIP Megawati menunjuk Theodorus Jacob Koekertis alias Ondos menjadi anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Pramono Anung langsung protes. Dia mengingatkan sohibnya sejak sesama aktivis di ITB itu menolak penugasan tersebut. Sebagai Sekjen PDIP, Pramono khawatir Ondos tergelincir dalam korupsi anggaran karena godaan di sana begitu besar.

"Tapi alhamdulillah selama dua periode di Banggar dia teruji kejujurannya. Saya menilai Ondos adalah aktivis dan politikus yang par excellence, yang sempurna. Dia adalah sosok yang mencintai pekerjaannya, jujur, amanah, dan begitu luar biasa," kata Pramono, yang kini menjabat Menteri Sekretaris Kabinet, dalam acara peluncuran buku dan diskusi 'Keteguhan Hati Yang Teruji, Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1980-an, Memoar Ondos', pada Jumat, 24 September 2021.

Ia berani berpendapat demikian karena tahu betul bagaimana sederhananya kehidupan Ondos sehari-hari. Meskipun dua periode menjadi anggota Banggar, lelaki kelahiran Makassar, 9 Februari 1962, itu tak mau neko-neko dan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan pribadi. Saking jujurnya, Ondos tak dapat merenovasi rumahnya. Itu pun dia tak mengeluh dan tak mau meminta kepada siapa pun. Kebetulan Pramono telah berteman sejak 1982 saat masih kuliah di ITB.

"Jadi tidak semua anggota Banggar itu selalu dalam pola hidup yang sekarang bisa dikatakan menjadi sorotan publik," kenang Pramono.

Masduki Baidlowi, juru bicara Wakil Presiden Ma'ruf Amin, memberikan kesaksian senada. Saat sama-sama bertugas di Banggar, mendiang koleganya itu benar-benar berjuang untuk politik anggaran, bukan mencari-cari anggaran politik. "Ondos memperjuangkan anggaran sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dan tidak memilah-milah," kata Masduki.

Dia antara lain mencontohkan soal dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk madrasah salafiyah di daerah pemilihannya. Padahal Ondos bukan anggota DPR dari PKB dan seorang Katolik. Meski nonmuslim, Ondos diketahui justru ikut berjuang membangun rumah sakit Islam dengan selalu berkomunikasi dengan komisi-komisi lain di DPR.

Soal keinklusifan Ondos, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memberikan kesaksian tersendiri. Saat masih di DPR, ia mengaku pernah ke kampung halaman Ondos di Makassar, Sulawesi Selatan. Ternyata dia dijemput seorang perempuan bercadar. Saat ditanya siapa gerangan perempuan tersebut, Ondos yang Katolik menyebut bahwa itu salah seorang anggota keluarganya. "Tenang aja, itu keponakanku. Keluarga kami biasa saja soal itu, wow. Itu cukup menggetarkan bagiku tentang keseharian keluarga Ondos," ujar Ganjar.

Dalam kata sambutan memoar ini, Megawati menyatakan bahwa bagi PDIP, sosok Ondos merupakan salah satu kader partai yang dapat menjadi teladan bagi kader lainnya dalam memaknai arti dari kewajiban menjalankan suatu tugas dengan prinsip karmanye vadhikaraste ma phalesha kadachana. "Kerjakanlah seluruh kewajibanmu dengan sungguh-sungguh tanpa menghitung untung-rugi," kata Megawati.

Sebagai kader partai yang menjalankan tugas dengan prinsip keikhlasan tersebut, ia melanjutkan, setiap petugas partai untuk membumikan ideologi partai agar bisa hadir dan dirasakan di tengah masyarakat merupakan tugas yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, penuh dedikasi, loyal, dan bertanggung jawab.

Ondos meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Sidoarjo setelah mengunjungi konstituennya, 24 September 2012. Dia bergabung ke PDIP sejak awal reformasi. Semasa menjadi mahasiswa Geologi ITB, kelahiran Makassar, 9 Februari 1962, itu pernah mogok makan selama 17 hari pada September 1989. Aksi itu sebagai protes terhadap Rektor Prof Wiranto Arismunandar yang memecat dan menskors tokoh mahasiswa yang berdemo saat kunjungan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus ITB pada 5 Agustus 1989.

Memoar yang disunting wartawan senior Untung Widyanto ini juga menceritakan jejaring aktivis mahasiswa akhir 1980-an di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan kota-kota besar lainnya. Juga mengupas sisi human interest Ondos, seperti kisah cintanya selama menjadi aktivis mahasiswa dan pernikahannya dengan Maria Silabakti.

Simak juga 'JoMan Ikut Berlabuh, Berikut Peta Dukungan Ganjar Maju Pilpres 2024':

[Gambas:Video 20detik]




(jat/jat)