Ondos, Kepercayaan Megawati-Orbitkan Jokowi 

Sudrajat - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 07:40 WIB
Memoar mendiang Theodorus Jacob Koekertis alias Ondos, politisi PDI Perjuangan
Buku Memoar Theodorus Jacob Koekertis alias Ondos (Dok. Untung Widyanto via FB)
Jakarta -

Mendiang Theodorus Jacob Koekertis alias Ondos rupanya punya andil dalam menarik Joko Widodo (Jokowi) dari Solo ke pentas politik nasional di Jakarta. Lewat Badiklat (Badan Pendidikan dan Pelatihan) PDIP yang dirintisnya sejak 2004, dia ikut meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati bahwa kinerja Jokowi di Solo sangat baik dan layak mendapatkan apresiasi lebih tinggi. Selain Jokowi, kader lain yang dinilai moncer adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

"Dia termasuk yang menemukan Jokowi untuk diorbitkan ke Jakarta, dan usulannya diterima Megawati. Mohon maaf ya, satu-satunya orang di luar DPP yang didengar suaranya ya Ondos," kata mantan Wali Kota Solo FX Hadi Rudiyatmo dalam memoar 'Keteguhan Hati Yang Teruji, Potret Gerakan Mahasiswa Indonesia 1980-an, Memoar Ondos'. Buku setebal 272 halaman yang diterbitkan Yayasan 5 Agustus dan Grasindo ini diluncurkan pada Jumat, 24 September 2021.

Mendiang Ondos, lanjut Rudy, mewawancarai langsung para tukang becak, tukang parkir, pedagang kaki lima, dan anggota masyarakat lainnya untuk mendapatkan gambaran lebih objektif tentang kinerja Jokowi. Ondos juga yang aktif bergerilya ke sejumlah kecamatan untuk memenangkan Jokowi dalam Pilkada di DKI, 2012.

Kinerjanya yang cukup baik sebagai anggota Fraksi PDIP membuat semua pengurus hormat kepada Ondos, termasuk Puan Maharani, yang saat itu menjabat Ketua Fraksi PDIP. Tak heran bila banyak acara pribadi Megawati dan keluarga yang dihadiri Ondos. "Suatu ketika saya datang ke Bali untuk menghadiri ulang tahun Puan Maharani, ternyata Ondos hadir mendampingi Ibu," tutur Rudy.

Dalam acara peluncuran yang berlangsung melalui aplikasi tatap muka jarak jauh, Dr Priyambudi Sulistiyanto, dosen Flinders University, Australia, menyebut mendiang Ondos sebagai sosok politikus dari kalangan aktivis mahasiswa yang patut dijadikan teladan. "Kita bisa membaca dan belajar banyak tentang seluk-beluk dan suka-duka seorang politisi yang selalu dekat dan 'merawat' konstituen politiknya di Dapil VI Jawa Timur," ujarnya.

Memoar ini, Priyambudi melanjutkan, bisa dijadikan semacam 'panduan' mempersiapkan mantan aktivis mahasiswa untuk menjadi politikus yang baik di Indonesia di masa ini dan di masa depan. Integritas Ondos, katanya, tidak terlepas dari aktivitasnya semasa menjadi mahasiswa ITB. Pada September 1989, Ondos melakukan mogok makan selama 17 hari. Aksi itu sebagai protes atas Rektor Prof Wiranto Arismunandar yang memecat dan menskors tokoh mahasiswa yang berdemo saat kunjungan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus ITB pada 5 Agustus 1989.

Usai lulus dari ITB, Ondos aktif di Forum Demokrasi bersama Gus Dur dan tokoh pro-demokrasi lainnya. Di awal reformasi, dia masuk ke PDIP dan terpilih sebagai anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur untuk periode 2004-2009 dan 2009-2014. Pada 24 September 2012, Ondos meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Sidoarjo setelah mengunjungi konstituennya.

Memoar yang disunting wartawan senior Untung Widyanto ini juga menceritakan jejaring aktivis mahasiswa akhir 1980-an di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Makassar, dan kota-kota besar lainnya. Juga mengupas sisi human interest Ondos, seperti kisah cintanya selama menjadi aktivis mahasiswa dan pernikahannya dengan Maria Silabakti.

Simak juga 'Saat Mega Nasihati Jokowi soal Pandemi: Bapak yang Tegar':

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)