Ke Kader PBB, LaNyalla Bicara Berkah & Ancaman Bonus Demografi RI

Erika Dyah - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 21:06 WIB
Ketua DPD LaNyalla
Foto: Dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menyampaikan pentingnya Indonesia menyongsong bonus demografi untuk dikelola sebagai kekuatan bangsa. Menurutnya, bonus demografi Indonesia layaknya dua sisi mata uang, bisa menjadi berkah dan juga ancaman.

"Apabila ingin melihat suatu negara di masa depan maka lihatlah bagaimana pemuda di negara itu hari ini," tutur LaNyalla dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/9/2021).

Hal ini ia sampaikan saat menjadi pembicara utama dalam Webinar Pemuda Bulan Bintang (Pelantang) bertema 'Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh; Era Baru Pemuda Tangguh'. Senator asal Jawa Timur ini menilai kalimat tersebut menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peranan besar dan penting bagi suatu bangsa.

"Terlebih di masa yang akan datang, karena generasi mudalah yang kelak akan menjadi pemimpin, yang akan meneruskan estafet sejarah kehidupan, menggantikan para pemimpin yang ada sekarang," katanya.

Oleh karena itu, LaNyalla mengaku selalu berusaha meluangkan waktu untuk menghadiri undangan dari kelompok atau organisasi kepemudaan. Sebab baginya, hal tersebut menjadi sarana untuk memupuk kesadaran berbangsa dan bernegara sekaligus menjadi ruang untuk memastikan masa depan Indonesia yang lebih baik.

Menurutnya, pemuda tangguh artinya pemuda yang sulit dikalahkan atau kuat sekali. Sebab, arti kata tangguh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti sulit dikalahkan atau kuat sekali.

"Sehingga, apa yang diharapkan oleh panitia melalui webinar kali ini, adalah kader-kader Pemuda Bulan Bintang seharusnya menjadi para pemuda yang sulit dikalahkan atau kuat sekali. Tentu dalam arti yang luas yakni kuat karakternya, kuat kepribadiannya, kuat moral dan akhlaknya serta kuat ilmu pengetahuannya," terangnya.

Ia pun menyampaikan tidak lama lagi Indonesia akan memasuki era bonus demografi dalam menyongsong 100 tahun Indonesia di tahun 2045. Menurutnya, bonus demografi Indonesia ini menarik untuk dibicarakan. Bahkan, ia menilai bonus demografi ini layaknya dua sisi mata uang.

"Di satu sisi adalah berkah atau peluang, tetapi di satu sisi bisa jadi musibah atau ancaman," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi pada tahun 2030 hingga 2040. Diperkirakan pada masa itu, penduduk usia produktif yang berusia 15 tahun hingga 40 tahun berjumlah lebih banyak dibandingkan penduduk dengan usia tidak produktif. Artinya, Indonesia akan didominasi oleh para pemuda.

LaNyalla menerangkan Bappenas memprediksi pertumbuhan penduduk usia produktif nantinya akan mencapai 64 persen dari total penduduk, yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa. Puncaknya, angkatan kerja Indonesia mencapai 71 persen.

"Melimpahnya usia produktif bisa menjadi peluang, karena dapat menggenjot pertumbuhan ekonomi negara. Sebaliknya, jika besarnya usia produktif tidak dibarengi dengan tersedianya lapangan pekerjaan, maka hal itu justru akan berpotensi meningkatkan jumlah pengangguran dan banyak permasalahan sosial lainnya," ungkapnya.

Ia menambahkan bonus demografi dapat menjadi berkah apabila kualitas sumber daya manusia di Indonesia memiliki standar yang mumpuni. Sehingga, nantinya akan berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara.

"Sebaliknya, bencana demografi akan terjadi jika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini justru tidak memiliki kualitas yang baik, sehingga menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, LaNyalla juga memaparkan alasan hal tersebut terjadi. Menurutnya, dunia saat itu juga mengalami perubahan yang luar biasa yang ditandai dengan banyak hal. Pertama, pada saat itu penduduk dunia menjadi 9,45 miliar manusia, tersebar 55 persen di Asia.

Selain itu, lanjutnya, jenis pekerjaan akan berubah drastis. Menurutnya, pekerjaan yang sekarang ada bisa jadi menjadi tidak ada`karena sudah tergantikan oleh otomasi yang menggunakan artificial intelligence.

"Ini semua menjadi tantangan Indonesia menyambut tahun 2045. Yang di satu sisi harus dikelola untuk menjadi momentum Indonesia Emas," katanya.

Demi menjawab tantangan bonus demografi dalam menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045, LaNyalla mengatakan masyarakat juga harus mampu memproyeksikan dan memetakan apa yang dibutuhkan Indonesia pada saat itu.

"Termasuk, menyiapkan sumber daya manusia dengan kualifikasi Generasi Emas 2045 yang tentu harus dipikirkan dan dipersiapkan dari sekarang," paparnya.

Dalam konteks tersebut, LaNyalla menilai organisasi kepemudaan, seperti Pemuda Bulan Bintang, harus berperan aktif menyiapkan Generasi Emas. Ia menjelaskan pemuda sebagai bagian dari stakeholders masyarakat sekaligus wajah bangsa di masa depan memiliki peran dan fungsi yang sangat besar dalam aspek moral, sosial, dan intelektual.

"Dalam aspek moral, pemuda tentu dianggap sudah dewasa, dalam memilih kehidupannya sendiri. Sudah sepatutnya memiliki kerangka acuan dan penafsiran yang jelas, atau lebih sering kita dengar kesadaran ideologi. Dan saya percaya, Pemuda Bulan Bintang memiliki kesadaran ideologi yang kuat," pungkasnya.

(ncm/ega)