Polri Beberkan Sejarah Terbentuknya MIT hingga Ali Kalora Tewas

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 16:20 WIB
Ilustrasi teroris (insert) (Luthfy Syahban/detikcom)
Ilustrasi teroris (Luthfy Syahban/detikcom)
Jakarta -

Satgas Madago Raya menembak mati pimpinan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Ali Kalora beserta pengawalnya, Jaka Ramadhan alias Ikrima. Kini daftar pencarian orang (DPO) dari MIT Poso menyisakan empat orang. Lantas bagaimana sejarah terbentuknya Mujahidin Indonesia Timur?

Kabag Banops Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar membeberkan kelompok teror lain, Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) menjadi cikal bakal dari terbentuknya MIT. Terlebih, ada Abu Bakar Ba'asyir di baliknya, yang Aswin sebut sebagai sosok paling penting di gerakan teror Indonesia.

"Berbicara tentang terbentuknya Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tidak bisa dilepaskan dari Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), konflik Poso, dan tentunya tidak bisa terlepas dari sosok paling penting dari gerakan organisasi teror di Indonesia, Abu Bakar Ba'asyir," ujar Aswin kepada wartawan, Sabtu (25/9/2021).

MIT merupakan jaringan kelompok teroris yang beroperasi di wilayah pegunungan Kabupaten Poso, Parigi Moutong, dan Sigi, Sulteng. Kelahiran MIT dibidani oleh JAT, jaringan organisasi teror yang didirikan oleh Abu Bakar Ba'asyir pada 2008. Abu Bakar Ba'asyir juga mendirikan JI pada 1993.

"ABB (Abu Bakar Ba'asyir) sendiri adalah pendiri Jamaah Islamiyah (JI) bersama Abdullah Sungkar di Malaysia pada 1993," terangnya.


Aswin mengungkapkan, untuk JAT, Abu Bakar Ba'asyir mendirikannya bersama seseorang bernama Abu Tholut. Salah satu anggota JAT yang direkrut ialah Santoso alias Abu Wardah.

Lebih lanjut, Aswin menyampaikan Santoso diangkat menjadi pemimpin Komando JAT di Poso atau lebih dikenal sebagai Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Sementara itu, anggota JAT lainnya yang bernama Bahrumsyah ditunjuk menjadi pemimpin Komando Mujahidin Indonesia Barat (MIB).

"Berdasarkan hasil pendalaman saat itu, pada 2009, Dulmatin menetapkan Aceh sebagai episentrum aliansi kelompok jihad Lintas Tanzim Aceh dan menjadikan Aceh sebagai Qoidah Aminah atau daerah basis pelatihan militer," tutur Aswin.

"Kepolisian berhasil mengendus kegiatan latihan militer mereka di daerah Jantho, Aceh, dan memburu semua peserta pelatihan itu, termasuk Abu Bakar Ba'asyir," sambungnya.

Dulmatin, yang terlibat di kasus Bom Bali 2002, tewas dalam kontak tembak dengan Densus 88 di daerah Ciputat setahun berikutnya. Santoso, yang menjadi salah satu peserta, pun kabur ke Poso dan ditahbiskan sebagai Amir Asykari sayap militer JAT cabang Poso.



Selanjutnya, pada 2010, Aswin menjelaskan Santoso dalam pelariannya melaksanakan Qoidah Aminah Tanzim jihad Negara Islam. Dia melakukan perekrutan anggota, mengumpulkan senjata, hingga melakukan pelatihan militer di Gunung Mauro, Gunung Biru dan Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulteng. Santoso diangkat menjadi pemimpin MIT pada 2012.

"Selama masa kepemimpinan Santoso, berbagai aksi teror dilakukan oleh MIT. Tidak lama setelah Santoso dilantik, MIT membunuh seorang warga sipil bernama Hasman Mao di desa Masani, Poso Pesisir. Dua belas hari kemudian, MIT juga membunuh dua orang anggota kepolisian, Briptu Andi Sapa dan Brigadir Sudirman," kata Aswin.

Setelah itu, lanjut Aswin, Santoso bersama MIT melakukan berbagai aksi penembakan terhadap warga di Kelurahan Kawua dan rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara. Pada 2014, MIT membunuh petani di Poso bernama Muhammad Amir dan Fadli.

Empat hari setelah Natal pada tahun yang sama, MIT menculik tiga warga Tamadue, yakni Harun Tabimbi, Garataudu, dan Victor Palaba. Satu di antaranya MIT bunuh secara brutal.

Masih terus beraksi di bawah kepemimpinan Santoso, pada awal 2015, MIT membunuh tiga warga di Desa Tangkura, Kabupaten Poso. Namun, pada 2016, Satgas Tinombala (sekarang Madago Raya), terlibat kontak tembak dengan kelompok teroris MIT.

Santoso tewas dalam kontak tembak tersebut. Tidak lama berselang, aparat menangkap tokoh MIT lainnya, Basri. Setelah Santoso tewas, Aswin mengatakan Ali Kalora muncul sebagai pemimpin MIT yang baru.

"Berkat terbunuhnya Santoso dan penangkapan Basri, muncul pemimpin baru dari MIT, yakni Ali Kalora. Di bawah Ali Kalora, MIT tidak menghentikan aksi terornya," paparnya.

Misalnya seperti pada awal Agustus 2017, MIT menembak mati petani di wilayah Pegunungan Pora, Desa Parigimpuu, Parigi Barat, Parigi Moutong. Pada 2018, pembunuhan terhadap warga sipil berlanjut. Seminggu setelah Natal, MIT membunuh seorang warga di Desa Sausu dengan cara memenggalnya.

Pada akhir 2020, MIT membantai empat orang di Kabupaten Sigi dan membakar rumah warga. "Brutalitas MIT ternyata tidak berkurang meski anggota kelompok tersebut berkurang satu per satu setelah terlibat kontak tembak dengan aparat," imbuh Aswin.

Kini, Ali Kalora sudah tewas di tangan Satgas Madago Raya pada Sabtu (18/9). Ali Kalora disergap aparat saat hendak mengambil sebuah barang yang telah dipesan sebelumnya.

(dnu/dnu)