Aktivis Satwa Kecam Penjualan Bayi Monyet Ekor Panjang di Bali

Sui Suadnyana - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 15:31 WIB
Penjualan bayi monyet ekor panjang di Pasar Burung Satria, Denpasar, Bali. (Dok. Jakarta Animal Aid Network/JAAN)
Penjualan bayi monyet ekor panjang di Pasar Burung Satria, Denpasar, Bali. (Foto: dok. Jakarta Animal Aid Network/JAAN)
Denpasar -

Aktivis satwa mengecam adanya perdagangan bayi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Pasar Burung Satria, Kota Denpasar, Bali. Terlebih penjualan bayi-bayi monyet tersebut diduga dilakukan secara ilegal.

"Di Bali masih ditemukan banyak penjual bayi-bayi monyet ekor panjang di Pasar Burung Satria, Denpasar. Setidaknya ada dua lapak penjual monyet ekor panjang di pasar itu. Monyet-monyet ini rata-rata berusia sangat muda," kata pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN) Femke den Haas dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom, Sabtu (25/9/2021).

"Menurut seorang pedagang, monyet ini didatangkan hampir setiap bulan dari Sumatera. Tentu saja hal ini ilegal, karena memasukkan hewan penular rabies (HPR) ke dalam Pulau Bali dilarang," terang Femke.

Femke menjelaskan perdagangan bayi monyet ekor panjang tersebut bisa dikatakan ilegal karena mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian (Kementan) Nomor 1696 Tahun 2008 tentang larangan memasukkan anjing, kucing, kera, dan sebangsanya ke Provinsi Bali.

Selain itu, penjualan hewan primata di pasar burung berpotensi besar melanggar Pasal 302 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penyiksaan hewan, Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2009 tentang peternakan dan kesehatan hewan serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 95 tahun 2012 tentang kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.

"Kemudian cara memperoleh dan mengangkut monyet-monyet ini juga melanggar Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P-63/Menhut-II/2013 tentang tata cara pengambilan spesimen tumbuhan dan satwa liar," jelas Femke.

Menurut Femke, monyet ekor panjang adalah spesies primata yang sangat sosial, hidup berkelompok dan cerdas. Karena itu, satwa tersebut tidak layak sebagai hewan peliharaan.

Bahkan monyet yang dipelihara dapat meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia maupun sebaliknya (zoonosis), seperti TBC, rabies, dan virus lainnya. Seperti dugaan kemunculan virus SarsCov-2 atau COVID-19 yang kini merebak di seluruh dunia dari pasar hewan hidup di Wuhan, China, pada 2019.

Kemudian kondisi hewan yang stres dan trauma dapat mengakibatkan serangan gigitan terhadap manusia. Selain itu, praktik perdagangan monyet ekor panjang ini jelas melanggar prinsip-prinsip kesejahteraan hewan.

"Monyet ekor panjang di Indonesia masih belum mendapatkan perlindungan meskipun faktanya menurut daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) status spesies Macaca di alam dinaikkan menjadi tingkat rentan," terang Femke.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.