Kisruh Jagung Kementan Vs Kemendag Ada Jalan Keluarnya

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 13:03 WIB
Penggiat UMKM nasional, Witjaksono
Witjaksono (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Harga jagung sebagai komoditas pakan ternak menjadi sorotan publik, terlebih seusai aksi Suroto peternak ayam yang diamankan polisi dan kemudian diundang ke Istana. Jokowi pun telah memerintahkan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan menyelesaikan masalah ini. Namun dua jajaran Jokowi ini malah beda pendapat.

Sepaham soal tingginya harga pakan jagung, Kemendag dan Kementan memiliki pandangan berbeda soal dalang dan penyebab di balik jeritan peternak. Keduanya saling menyalahkan satu dengan lainnya. Tokoh UMKM Nasional, Witjaksono, meminta Kementan dan Kemendag menghentikan kegaduhan masalah jagung dan mulai fokus mencari jalan keluar dari permasalahan ini.

"Stop gaduh, permasalahan komoditi jagung tidak akan pernah selesai dengan ribut-ribut, apalagi saling menyalahkan. Kementan dan Kemenag seyogianya bersinergi agar persoalan ini dapat tuntas," kata Witjaksono, Kamis (23/9/2021).

Entrepreneur UMKM Nahdlatul Ulama (NU) ini mengatakan persoalan komoditi jagung dapat diselesaikan dengan beberapa cara konkret yang memerlukan konsistensi dan sinergi antara Kementan dan Kemendag. Salah satunya dimulai pada penguatan argobisnis atau argoindustri tanaman jagung yang dapat dilakukan di beberapa daerah untuk menuju swasembada jagung.

Witjaksono mengaku langkah ini yang telah dilakukannya di daerah, salah satunya Bengkulu Selatan, yang kini menjadi daerah pemasok kebutuhan komoditas jagung bagi wilayah atau provinsi lainnya.

Selain menjadi langkah menuju swasembada pangan, langkah ini menjadi solusi untuk mengatasi pengangguran atau minimnya lapangan pekerjaan bagi masyarakat di tengah pandemi COVID-19.

"Saya sudah terapkan ini di Bengkulu Selatan sejak tahun 2018, dan alhamdulillah, awalnya rata rata tanam setiap tahun hanya 1.000 hektare, kini jadi di atas 12 ribu hektare. Silakan dicek dengan Pak Bupati Bengkulu Selatan," ujarnya.

Witjaksono, tokoh yang mengaku pernah dipanggil ke Istana menjelang reshuffle beberapa waktu lalu, menuturkan langkah memperkuat argo bisnis dan industri pangan seperti ini dapat mempersingkat waktu serta jarak Indonesia menuju swasembada jagung. Jika target swasembada jagung tercapai, Witjaksono memastikan stok komoditas akan tersedia di seluruh daerah sehingga pemerintah maupun swasta dapat menjual dengan harga lebih murah ke masyarakat.

Ketua Umum Serikat Nelayan NU ini menilai wajar jika tidak sedikit pihak yang mensinyalir persoalan komoditas jagung memang sengaja tidak diselesaikan tuntas dan cenderung terjadi pembiaran. Permasalahan ini, menurut dia, justru menjadi ladang bisnis oleh orang atau kelompok-kelompok tertentu.

"Wajar saja jika muncul dugaan pembiaran berlarutnya permasalahan ini karena komoditi pangan telah menjadi proyek multiyears oknum-oknum tertentu. Libatkan instrumen negara lainnya, KPK misalnya untuk mengawasi hulu hingga hilir perjalanan komoditi pangan di Tanah Air," katanya.

Mendag Muhammad Lutfi dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, memberikan penjelasan soal polemik harga jagung mahal karena pasokan barangnya tidak ada.

"Gini... kalau ada barangnya, sekarang kita jangan ngomong jutaan, ngomong 7.000 (ton) aja nggak ada buat kebutuhan 1 bulan di Blitar, nggak ada barangnya," kata dia, Selasa (21/9).

Lutfi menyebut jika stok jagung memang ada tidak mungkin harganya meroket seperti sekarang ini.

Kementerian Pertanian langsung membantah pernyataan Lutfi, yakni Direktur Serelia Ditjen Tanaman Pangan Moh Ismail Wahab menegaskan stok jagung itu ada dan total jagung mencapai 2,3 juta ton itu benar adanya.

Pihaknya pun mempersilakan bila ada yang ragu untuk mengecek sendiri ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Kami punya data stok, silakan tanya kami bila benar ingin menyelesaikan perkara jagung peternak mandiri," jelas Ismail.

Simak juga video 'Suroto Terima Bantuan 20 Ton Jagung dari Jokowi':

[Gambas:Video 20detik]



(gbr/tor)