Ulama Se-Jawa dan NTB Gelar Doa Bersama untuk Kesejahteraan Petani

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 09:29 WIB
Doa bersama
Foto: dok. Pemprov Jateng
Jakarta -

Ulama se-Jawa dan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terkumpul dalam Majelis Dzikir Al Tsawab menggelar doa bersama agar seluruh petani di Tanah Air memperoleh keberkahan. Doa bersama ini adalah kedua kalinya digelar yang diadakan setiap 35 hari sekali secara virtual.

Tercatat ada 65 titik Majelis Dzikir Al Tsawab yang tersebar di Jawa Tengah (Jateng), Jawa Barat (Jabar), Jawa Timur (Jatim) sampai Nusa Tenggara Barat. Satu di antaranya berada di Pondok Pesantren Syafiiyah Desa Bandungsari, Kecamatan Ngaringin, Grobogan. Dalam doa bersama pada Minggu (19/9), belasan orang mulai dari kiai, ustaz dan santri berkumpul melingkar di sebuah ruang kelas dengan mengenakan masker dan tetap menjaga jarak.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Syafiiyah, Kiai Ahmad Haris mengatakan sudah sekian bulan petani Indonesia mengalami keterpurukan terutama karena jatuhnya harga beberapa komoditas. Untuk itu, seluruh kiai dan santri dalam Majelis Dzikir Al Tsawab memutuskan memberi dukungan spirit kepada petani lewat gelaran doa bersama.

"Semoga pertanian di seluruh pelosok negeri memperoleh berkah, terhindar dari hama, panennya bisa melimpah dan harga jual tidak anjlok," ujar Ahmad dalam keterangan tertulis, Senin (20/9/2021)

Selain santri, para petani yang ada Desa Bandungsari juga hadir. Mereka khusyuk melantunkan zikir dan doa.

"Di majelis ini para kiai dan santri memang sengaja hadir di tengah persoalan yang dialami masyarakat. Agar bukan hanya kesalehan ritual, tapi kami juga memperoleh kesalehan sosial," terangnya.

Sementara itu, salah satu pendiri Majelis Dzikir Ats Tsawab, Kiai Muhammadun dari Ponpes Dirgantara Purbalingga menambahkan majelis tersebut berdiri sejak Agustus tahun ini. Namun, hingga saat ini sudah menyebar di seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah, dan sebagian sudah ada di Jawa Barat, Jawa Timur, serta NTB.

"Di Jateng sudah ada sekitar 65 titik, dan 10 titik ada di Jatim, Jabar dan NTB. Ke depan akan terus bertambah," ungkapnya.

Ia berharap, Majelis Dzikir Ats-Tsawab bisa menjadi embrio ikatan majelis zikir se-Indonesia. Sebagaimana dikatakan kiai Ahmad Haris dan Kiai Muhammadun yang menilai Majelis Dzikir Al Tsawab ini hadir untuk mendoakan dan memberi dukungan secara spiritual kepada masyarakat yang tengah mengalami problematika. Untuk edisi kali ini, para kiai dan santri merasa gelisah dengan kondisi dunia pertanian Tanah Air.

"Tujuannya adalah bersatu padu, saling jaga dan saling bantu membantu dalam hal hablum minallah dan hablum minannas. Saleh untuk diri sendiri dan mushlih untuk orang lain. Bersinergi dalam menjaga paham ahlussunnah wal jamaah. Syukur dapat meluas manfaat dalam hal pendidikan dan ekonomi," tuturnya.

Menurutnya, apabila pertanian bisa terurus dengan baik maka terbuka kemungkinan untuk menjadi salah satu pilar perekonomian bangsa. Dia juga mengungkapkan kebanggaannya atas capaian dunia pertanian di Jawa Tengah yang berhasil jadi eksportir hasil pertanian di Tanah Air.

Di sisi lain, salah seorang petani Desa Bandungsari, Suyatman merasa bersyukur hasil panen kali ini sangat maksimal. Produksi jagung dapat terjual dengan harga Rp 5.300 per kilogram. Hasil tersebut menurutnya tidak terlepas dari dukungan banyak pihak dari pemerintah yang mendukung sarana-prasarana sampai dukungan para kiai yang men-support secara spiritual.

"Kali ini panen jagung, hasilnya bagus dan maksimal. Alhamdulillah pemerintah perhatian, karena pupuk mudah dan lancar. Hanya saja kami usul kalau bisa dibuatkan mesin sedot air untuk pengairan," tandasnya.

Lihat juga video 'Jokowi Dorong Generasi Muda Maju Jadi Petani':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)