Jokowi Bicara Kontribusi RI Hadapi Situasi Darurat Energi dan Iklim Dunia

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 18 Sep 2021 08:51 WIB
Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo (Lukas/Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri pertemuan Major Economies Forum on Energy and Climate 2021 secara virtual dari Istana Bogor, Jawa Barat. Jokowi berbicara tentang kontribusi Indonesia untuk dunia dalam menghadapi situasi darurat di sektor energi dan iklim.

"Kredibilitas, khususnya aksi konkret, sangat krusial," ujar Jokowi dalam keterangan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Sabtu (18/9/2021).

Dalam pertemuan itu, Jokowi menyampaikan komitmen Indonesia untuk berkontribusi dalam menghadapi situasi darurat. Dari sektor energi, pemerintah telah mencanangkan transformasi menuju energi baru dan terbarukan, serta akselerasi ekonomi berbasis teknologi hijau pada bulan Agustus lalu.

"Untuk mewujudkan transformasi ini, kami telah menyusun strategi peralihan pembangkit listrik dari batu bara ke energi baru terbarukan, mempercepat pembangunan infrastruktur energi baru terbarukan yang didukung pelaksanaan efisiensi energi, meningkatkan penggunaan biofuel, dan mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik," ucapnya.

Selain itu, Jokowi mengungkapkan Indonesia telah menargetkan netral carbon (net zero) pada 2060 dengan kawasan percontohan yang masih terus dikembangkan.

"Termasuk pembangunan green industrial park seluas 20 ribu hektare, terbesar di dunia, di Kalimantan Utara," ujarnya.

Terkait transisi energi, Jokowi menuturkan kemitraan global sangat diperlukan karena transisi energi bagi negara berkembang membutuhkan pembiayaan dan teknologi yang terjangkau.

"Kami membuka peluang kerja sama dan investasi bagi pengembangan bahan bakar nabati, industri baterai litium, kendaraan listrik, teknologi carbon, capture, and storage, energi hidrogen, kawasan industri hijau, dan pasar karbon Indonesia," katanya.

Terakhir, Jokowi menyampaikan dukungannya terhadap Global Methane Pledge atau ikrar aksi bersama yang bertujuan mengurangi 30 persen emisi metana global pada 2030. Menurutnya, Global Methane Pledge dapat menjadi momentum penguatan kemitraan dalam mendukung kapasitas negara berkembang.

"Bersama Amerika Serikat dan 45 negara lainnya, Indonesia juga telah bergabung dalam Global Methane Initiative. Pengurangan emisi metana telah masuk dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia," pungkasnya.

(fas/hri)