Kisah Istri Digugat Bank untuk Lunasi Utang Almarhum Suami Rp 413 Juta

Andi Saputra - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 12:28 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Seorang ibu rumah tangga di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Mariantji Manafe digugat bank perkreditan setempat. Mariantji Manafe diminta melunasi utang almarhum suaminya sebesar Rp 413 juta.

Sebagaimana dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri (SIPP PN) Kupang, Kamis (16/9/2021), kasus bermula saat Mariantji bersama suaminya, Wellem Dethan, meminjam uang di bank. Keduanya meminjam dengan menjaminkan tanah dan bangunan pada 2015.

Pada 2018, Wellem Dethan meninggal dunia. Dari sinilah mulai timbul sengketa. Sebab, bank meminta Mariantji Manafe melunasinya. Di satu sisi, Mariantji Manafe merasa utangnya sudah lunas. Di sisi lain, Mariantji kaget karena jaminan yang diberikan ke bank tidak kunjung dikembalikan.

Mariantji Manafe kemudian menggugat bank untuk mengembalikan jaminan dua sertifikat tanah dan dikabulkan.

"Menghukum Tergugat (bank, red) untuk mengembalikan objek hak tanggungan berupa 2 (dua) persil tanah dan bangunan yakni sebidang tanah dan bangunan dengan Sertifikat Hak Milik Nomor : 166, seluas 488 M2 an. Wellem Dethan dan sebidang tanah dan bangunan dengan Sertifikat Hak Milik Nomor : 168 seluas 334 M2, An. Wellem Dethan di Kelurahan Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur kepada Penggugat setelah putusan ini berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Menghukum Tergugat untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) untuk setiap hari keterlambatan, bilamana lalai untuk menjalankan putusan ini yang telah berkekuatan hukum tetap," demikian bunyi putusan PN Kupang yang diketok pada Desember 2019.

Putusan di atas dikuatkan di tingkat banding.

Simak juga 'Kuasa Hukum: Kenang Mirdad Sosok Kepala Keluarga dan Ayah yang Baik':

[Gambas:Video 20detik]



Belakangan, bank melayangkan gugatan balik ke Mariantji Manafe untuk segera mengembalikan utang. Hasilnya, PN Kupang mengabulkan dan menyatakan Mariantji Manafe harus mengembalikan utang tersebut. Pada 2 September 2021, PN Kupang memutuskan:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat sebagian;
2. Menyatakan hukum bahwa Tergugat telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum kepada Penggugat;
3. Menyatakan hukum bahwa Tergugat adalah Istri Sah dari Alm. Wellem Dethan serta Ahli Waris satu- satunya dari Alm. Wellem Dethan;.
4. Menyatakan hukum bahwa Tergugat sebagai Ahli Waris satu-satunya dari Alm. Wellem Dethan Tidak Menolak warisan dari Alm. Wellem Dethan;
5. Menyatakan Hukum bahwa Alm. Wellem Dethan mempunyai warisan Hutang kepada penggugat sebesar Rp 224 juta beserta bunga sebesar Rp 116.480.000,- (bunga pinjaman)dan dendanya sebesar Rp 72.800.000,- (denda keterlambatan) maka Totalnya Rp 413.280.000.
6. Menyatakan hukum bahwa Tergugat sebagai Istri Sah/ Ahli Waris satu-satunya dari Alm. Wellem Dethan bertanggung jawab untuk melunasi hutang milik Alm. Wellem Dethan berupa sisa Hutang sebesar Rp 224.000.000, beserta bunga sebesar Rp 116.480.000 dan dendanya sebesar Rp72.800.000
7. Menghukum Tergugat untuk membayar sisa hutang milik Alm. Wellem Dethan kepada Penggugat secara Tunai dan sekaligus berupa:
1. sisa Hutang sebesar Rp. 224.000.000
2. bunga sebesar Rp 116.480.000
3. denda sebesar Rp72.800.000
Totalnya sebesar Rp 413.280.000
8. Menyatakan hukum apa bila Tergugat tidak melunasi hutang tersebut dengan melakukan pembayaran sejumlah uang maka harta benda milik Alm. Wellem Dethan dan Tergugat berupa Sertifikat Hak Milik Nomor 166, dengan luas tanah 488 M2, terletak di Desa Sikumana, Kec. Kupang Barat, Kupang, Propinsi NTT, terdaftar atas nama Wellem Dethan dan Sertifikat Hak Milik Nomor 168, dengan luas tanah 334 M2, terletak di Desa Sikumana, Kec. Kupang Barat, Kupang, Propinsi NTT, terdaftar atas nama Wellem Dethan dapat dilelang secara umum dan hasilnya diserahkan secukupnya kepada Penggugat sesuai dengan hutang milik Alm. Wellem Dethan/ suami Tergugat;
9. Menghukum Tergugat untuk membayar biaya perkara yang sampai hari ini ditetapkan sejumlah Rp. 370.000.00 (tiga ratus tujuh puluh ribu rupiah);

Mengetahui hal itu, kini giliran Mariantji Manafe yang tidak terima dan mengajukan banding.

(idh/fjp)