Ribuan Pohon di Jakbar Dipangkas Cegah Pohon Tumbang Saat Cuaca Ekstrem

Karin Nur Secha - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 12:09 WIB
Dinas Kehutanan DKI Jakarta melakukan pemangkasan pohon di kawasan Tebet, Jakarta. Hal itu untuk mencegah pohon tumbang di musim hujan.
Ilustras pemangkasan pohon (Foto: Agung Pambudhy-detikcom_
Jakarta -

BMKG mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem untuk sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta. Pemkot Jakarta Barat (Jakbar) pun memangkas ribuan pohon demi mencegah pohon tumbang akibat cuaca ekstrem.

Kasudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakbar, Djauhar Arifien, mencatat ada 6.334 pohon yang dipangkas sepanjang Januari hingga pertengahan September 2021. Dia menyebut hal itu dilakukan untuk mencegah hal tak diinginkan terjadi saat cuaca ekstrem terjadi.

"Totalnya sudah ada 6.334 pohon yang dipangkas hingga saat ini," ujar Djauhar kepada wartawan, Kamis (16/9/2021).

Djauhari menyebut pemangkasan pohon bisa mencegah pohon tumbang di wilayah Jakarta Barat. Dia mengatakan pemangkasan pohon terus dilakukan.

"Musim hujan sudah menjuntai, terus yang permohonan warga yang sudah mengganggu kabel listrik dan salah satunya juga ada yang udah keropos itu kita kurangi," jelas Djauhari.

Sebelumnya, BMKG mengeluarkan prediksi cuaca ekstrem yang bisa terjadi di Jawa Barat hingga DKI Jakarta. Wilayah itu diminta untuk mewaspadai potensi banjir.

"Berdasarkan Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak (IBF-Impact Based Forecast) BMKG, potensi dampak bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, dan atau tanah longsor dari cuaca ekstrem hingga 3 (tiga) hari ke depan, yakni tanggal 15 September 2021, untuk level siaga," kata Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, dalam keterangannya, Selasa (14/9).

Guswanto memaparkan cuaca ekstrem tersebut terjadi akibat mulai aktifnya sejumlah fenomena dinamika atmosfer yang melewati wilayah Indonesia. Dia menyebut fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin akan terpantau aktif di wilayah Indonesia hingga seminggu ke depan.

"MJO, gelombang Rossby Ekuatorial, dan gelombang Kelvin adalah fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya," ucapnya.

Dia menyebut pertemuan kecepatan angin mengakibatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia. Kemudian suhu muka laut yang masih hangat hingga tingginya kelembapan udara juga mendukung fenomena cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi di Indonesia.

(haf/haf)