Menkes Ungkap Sebab CT Value Pasien COVID di Surabaya 'hanya' 1,8

Eva Safitri - detikNews
Senin, 13 Sep 2021 17:57 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin
Menkes Budi Gunadi Sadikin (Foto: Rusman-Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap penyebab pasien COVID-19 di Surabaya dengan CT value 1,8. Budi mengatakan pengecekan kondisi pasien tersebut menggunakan isoterm, bukan PCR.

"Di Surabaya ada masuk varian baru yang CT-nya rendah. Setelah saya konfirmasi, itu sebenarnya ditesnya bukan menggunakan PCR, tetapi menggunakan metode isoterm (tes molekuler isotermal). Nah isoterm itu angkanya lebih rendah. Dia memiliki angka result ada yang 1,5; 1,6; dan 1,8," kata Budi dalam rapat bersama Komisi IX, Senin (13/9/2021).

Budi mengatakan metode isoterm memiliki hasil yang lebih rendah dibanding PCR. Jadi hasilnya pun jauh lebih rendah.

"Jadi kalau kita mendengar ada CT 1,8, CT itu biasanya minimal di atas 2. Karena itu kan pengulangan dari tes amplifikasi RNA-nya ya. Jadi kalau ada 1, 2, 3. Jadi kalau angkanya 1,5 1,8 itu menggunakan isoterm yang skala pengukurannya berbeda dengan CT yang biasa kita gunakan di PCR," ujarnya.

Sebelumnya, kasus COVID-19 dengan CT value 1,8 terjadi di salah satu pasien di RS Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya. Sampel pasien tersebut telah dikirim ke ITD Unair guna dilakukan whole genome sequencing untuk mengetahui jenis variannya.

Namun hingga kini, belum diketahui apakah pasien tersebut terpapar varian baru Mu atau varian lama. Dokter Spesialis Patologi Klinis RSLI dr Fauqa Arinil Aulia mengklarifikasi nilai CT value 1,8 yang beredar.

Pasien tersebut merupakan pasien umum, bukan PMI. Dokter Fauqa menambahkan pasien dites menggunakan metode isolated isothermal-PCR (ii-PCR). Metode ini berbeda dengan metode reverse transcription PCR (RT-PCR).

Tak hanya itu, hasil pemeriksaan menggunakan metode isotermal PCR, pelaporannya menggunakan indeks rasio. Yang mana penghitungan di bawah 1,15 dinyatakan negatif dan 1,8 positif.

"CT value dari RT-PCR cut-off negatifnya juga bermacam-macam, tergantung instrumen dan reagen yang digunakan," kata dr Fauqa di Surabaya, Jumat (10/9).

(eva/jbr)