Jadi Menteri Jokowi, Prabowo Dinilai Dapat Pemilih Baru

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 12 Sep 2021 16:10 WIB
Prabowo Subianto (Andhika-detikcom)
Foto: Prabowo Subianto (Andhika-detikcom)
Jakarta -

Direktur Survei dan Polling Indonesia (Spin), Igor Dirgantara, menilai bergabungnya Partai Gerindra dalam koalisi pemerintah tak mempengaruhi elektabilitas Prabowo Subianto pada Pilpres mendatang. Ia mengatakan, pemilih Prabowo takkan mengalami penurunan lantaran mendapatkan pemilih baru dari pendukung Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, migrasi pemilih Prabowo tetap ada, termasuk dari pendukung yang kecewa lantaran Gerindra bergabung ke pemerintah.

"Tapi migrasi pemilih juga terjadi pada para pendukung Pak Jokowi yang merasa respect, mengapresiasi kinerja Pak Prabowo untuk bersama-sama dengan presiden mengatasi pandemi COVID-19," kata Igor dalam peluncuran survei yang digelar secara daring Rabu (8/9/2021).

Sebagaimana diketahui, Prabowo pertama kali berhadapan dengan Jokowi dalam Pilpres 2014. Adapun Prabowo kalah dan memutuskan Partai Gerindra menjadi oposisi. Pada tandang kedua di 2019, Prabowo kembali kalah, tetapi memutuskan untuk bergabung dalam kabinet Indonesia Maju.

Igor melanjutkan, peluang dalam Pilpres 2024 terbuka lebar sebab Prabowo memiliki partai politik. Di samping itu, kata dia, berdasarkan hasil survei Spin, popularitas dan akseptabilitas Prabowo mengungguli nama lain yang berpeluang menjadi calon presiden (capres).

Survei itu menyebutkan, Prabowo berada di urutan puncak untuk perolehan popularitas dengan nilai 89,1%. Adapun akseptabilitasnya sebesar 76,7%.

"Saya menilai bahwa Pak Prabowo masih berada di hati masyarakat dan publik juga menilai bahwa memberikan kesempatan kepada Pak Prabowo untuk maju kembali," tuturnya.

Ia berpendapat, Prabowo memiliki sejumlah kelebihan sehingga layak menjadi capres. Pertama, komitmen dengan berdemokrasi.

Hal ini, lanjut Igor, dibuktikan dengan kebesaran hati dalam setiap kontestasi politik yang diikuti Prabowo, seperti saat menjadi calon wakil presiden (cawapres) Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009, Pilpres 2014, dan Pilpres 2019.

"Bahkan, kalau saya tarik mundur, ketika itu Pak Prabowo masih jadi kader Golkar, dia ikut konvensi capres di 2004 (dan) dia kalah, dia enggak pernah ngamuk-ngamuk. Dia (lalu) bikin Gerindra sampai sebesar sekarang," paparnya.

Keunggulan berikutnya, lanjut Igor, Prabowo dikenal di kancah global. Ia mencontohkan, Prabowo diberi izin memasuki Amerika Serikat beberapa waktu lalu meski sempat dicekal karena diduga terlibat pelanggaran HAM berat.

"Prabowo juga selalu mengutamakan kepentingan rakyat. Hal tersebut terlihat dalam setiap isi pidatonya baik saat sebagai Menhan ataupun Ketua Umum DPP Gerindra," ungkap Igor.

Menurut Igor, persoalan Prabowo untuk maju dalam pilpres 2024 hanya faktor usia. Namun, kata dia, hal itu tidak signifikan sebagaimana yang terjadi di sejumlah negara seperti presiden Amerika Serikat Joe Biden.

Sebagai informasi, survei yang digelar pada 7-21 Agustus 2021 tersebut melibatkan 1.670 responden di 34 provinsi. Penelitian memakai teknik sampel acak berjenjang (multistage random sampling) dengan rata-rata simpangan (margin of error) sekitar 2,4% pada tingkat kepercayaan (level of confidence) 95%.

Tonton juga Sosok Stanve, Jago Matematika Tingkat Dunia Asal Tangerang

[Gambas:Video 20detik]



(ads/ads)