Singapura Dinilai Sedang Eksperimen Atasi COVID, Hasilnya Jadi Pelajaran RI

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 12:02 WIB
SINGAPORE, SINGAPORE - APRIL 25: General view of a seating area in a cafe that is cordoned off as a preventive measure to prevent the spread of the Covid 19 novel coronavirus on April 25, 2020 in Singapore. SIngapore has seen an outbreak of coronavirus victims centering around its migrant workers  (Photo by Ore Huiying/Getty Images)
Foto ilustrasi: Singapura (Getty Images/Ore Huiying)
Jakarta -

Meski sempat lockdown dan punya angka vaksinasi tinggi, Singapura ternyata mengalami lonjakan kasus harian COVID-19. Ilmuwan menilai Singapura sedang bereksperimen. Kegagalan atau keberhasilan Singapura bakal menjadi pelajaran dunia, termasuk Indonesia.

"Ini penting untuk negara-negara lain termasuk Indonesia. Kalau Singapura yang negara kecil saja gagal, di mana jumlah kasus yang membutuhkan perawatan rumah sakit itu tinggi, maka ini adalah berita buruk buat kita semua, buat Indonesia, Malaysia, Australia, karena pembukaan itu tidak bisa dilakukan secara bebas," kata pakar bencana Profesor Sulfikar Amir kepada wartawan, Sabtu (11/9/2021).

Eksperimentasi ini bisa gagal, bisa pula berhasil. Bila eksperimen gagal, Indonesia tak perlu menanggung risikonya dengan meniru cara Singapura. Bila eksperimen Singapura berhasil, Indonesia dan negara lain tinggal mencontoh saja.

"Kalau misalnya ini berhasil dan Singapura mampu membuka diri, orang luar bisa datang bebas tanpa karantina, orang Singapura bisa keluar dan kembali tanpa karantina, maka ini adalah kabar bagus buat semua orang. Model Singapura bisa dicontoh oleh negara lain," kata Sulfikar.

Sulfikar adalah guru besar bidang sosiologi bencana dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, negara yang sedang dia bicarakan. Dia menilai negara-negara lain perlu berterima kasih kepada Singapura karena telah melakukan eksperimen penanganan COVID-19 ini. Tujuan eksperimen ini adalah tinggal landas dari era pandemi menuju era endemi COVID-19.

Dia menyatakan Singapura tidak gagal mengatasi pandemi meski kasus baru COVID-19 naik. Soalnya, kenaikan kasus baru COVID-19 di negeri jiran itu sudah diprediksi lebih dulu oleh pemerintah setempat.

"Ini semuanya terkendali sebenarnya," kata Sulfikar Amir.

Kata dia, angka harian di Singapura naik sekitar 300 kasus baru COVID-19 per hari. Diprediksi otoritas setempat, angka harian bisa mencapai 1.000 kasus baru dalam dua pekan. Ini semua sudah diprediksi dan tidak jadi soal. Soalnya, otoritas kesehatan Singapura berfokus pada angka penanganan medis di rumah sakit ketimbang angka kasus baru.

"Yang mereka perhatikan itu bukan jumlah kasus, namun berapa banyak orang yang membutuhkan alat pernapasan bantuan dan perawatan di ICU. Sejauh ini, jumlah kasus yang membutuhkan pernapasan bantuan dan ICU itu relatif rendah," kata dia.

Vaksinasi di Singapura sudah melampaui 80 persen dua dosis. Mereka bahkan tengah menyiapkan dosis booster vaksinasi untuk populasi rentan.

Eksperimen penanganan COVID-19 dilakukan dengan cara membuka aktivitas masyarakat secara bertahap. Ternyata memang kasus baru menjadi naik namun fasilitas kesehatan tidak menjadi kolaps.

"Aktivitas tetap dibuka, masyarakat dibiarkan melakukan aktivitas secara leluasa, kantor dibuka, sekolah tatap muka berjalan, tapi masih ada pembatasan dalam jumlah angka. Misalnya di restoran angka dibatasi 5 orang dalam satu grup, lalu kemudian aktivitas pendidikan harus dibatasi maksimum 50 persen," kata dia.

Tonton juga Video: Singapura Lockdown Parsial Sebulan, Pertemuan Maksimal 2 Orang

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/idh)