HNW Bantah Bahasa Arab Jadi Cara Penyebaran Radikalisme & Terorisme

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 11:08 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menyoroti polemik yang mengaitkan bahasa Arab sebagai cara penyebaran radikalisme dan terorisme. Adapun hal tersebut sempat dinyatakan oleh pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati dan mantan Menteri Agama Fahrurozi.

Terkait hal ini, HNW mengatakan bahasa Arab tidak berkaitan dengan keduanya. Sebaliknya, bahasa Arab justru memberi banyak kosa kata dalam Pancasila. Meski telah diklarifikasi, HNW mengatakan hal tersebut belum memadai karena stigma yang belum dikoreksi atau dicabut. Ia pun mengatakan seandainya stigma tersebut benar, masyarakat Indonesia tak mungkin diminta untuk mengamalkan Pancasila sebagai ideologi negara. Terlebih Indonesia juga merupakan negara yang memerangi terorisme dan radikalisme.

"Bukankah dalam Pancasila kata 'Adil' tetap ada dalam sila kedua dan kelima. Lalu kata 'rakyat' tetap ada pada sila keempat dan kelima, adab pada sila kedua, serta hikmat, musyawarah, dan wakil pada sila keempat. Padahal semua itu serapan dari bahasa Arab!" ujar HNW dalam keterangannya, Sabtu (11/9/2021).

Lebih lanjut HNW menjelaskan terorisme dan radikalisme bertentangan dengan demokrasi yang simbolnya berada di parlemen. Sementara parlemen di Indonesia, yaitu MPR, DPR dan DPD masih menggunakan istilah dasar yang menyerap dari bahasa Arab. Istilah ini meliputi majelis, musyawarah, dewan, wakil, rakyat, serta daerah.

Menurut HNW, tuduhan dan framing tendensius tersebut patut ditolak dan dikritisi. Selain tidak sesuai dengan fakta, framing negatif tersebut juga merendahkan nilai-nilai dalam Pancasila dan kehidupan berdemokrasi.

"Jadi, apabila ada pernyataan memperbanyak bahasa Arab disebut sebagai salah satu ciri penyebaran terorisme, disadari atau tidak itu bisa jadi bentuk 'teror' terhadap Pancasila dan Parlemen Indonesia yang banyak ungkapannya diserap dari bahasa Arab," ujarnya.

HNW menegaskan bangsa Indonesia juga menolak radikalisme dan terorisme. Namun, hal ini sebaiknya dilakukan berbasiskan kebenaran, bukan framing atau islamophobia. Adapun hal ini perlu disikapi secara rasional dan kritis.

"Apabila penyebaran terorisme dikaitkan dengan penyebaran bahasa Arab, lalu bagaimana dengan fakta penyebaran tindakan terorisme di Indonesia dan di dunia yang tidak terkait bahasa Arab?" katanya.

"Apakah OPM yang meneror kedaulatan NKRI di Papua itu berbahasa Arab? Atau Belanda/VOC yang meneror dan menjajah Indonesia berabad-abad itu juga berbahasa Arab? Juga terorisme supremasi kulit putih (Ku Klux Klan) di Amerika dan di Selandia Baru serta Kanada?. Juga teror negara Israel terhadap Palestina? Apakah juga terkait dengan bahasa Arab?. Kan tidak. Tetapi mengapa semua itu tidak disoroti? Inilah yg menampakkan adanya Islamophobia di balik tuduhan terhadap bahasa Arab. Radikalisme dan Terorisme tidak terkait dengan penyebaran bahasa Arab maupun lainnya. Tetapi radikalisme dan terorisme tetap ditolak, bahasa apapun yang dipergunakan," imbuhnya.

Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini pun menambahkan meskipun banyak orang Arab non Muslim yang menggunakan bahasa Arab, tetapi secara prinsip bahasa Arab lebih dikenal sebagai bahasa Alquran. Bahasa Arab di Indonesia juga semakin menyebar dengan banyaknya pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam.

Selain itu, penyebaran bahasa Arab di Indonesia juga disebabkan meningkatnya jumlah calon jemaah haji dan umroh, serta pengajian di TV atau majelis taklim. Penguatan hubungan politik dan ekonomi Indonesia dengan negara-negara berbahasa Arab di Teluk/Timur Tengah juga menjadi faktor lainnya.

Dari faktor-faktor tersebut, HNW mengatakan bahasa Arab sudah diterima dan menyebar secara internasional ke banyak organisasi di tingkat global. Bahkan, bahasa Arab menjadi salah satu bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Persatuan Parlemen Dunia (IPU).

Selain di level pemerintahan, lanjut HNW, bahasa Arab juga digunakan di kegiatan bisnis internasional. Dengan demikian, banyak pebisnis dari mancanegara juga mempelajari bahasa Arab.

"Itu karena sekarang banyak negara Arab sebagai pemain utama dalam ekonomi global, sehingga banyak pebisnis bahkan mempelajari bahasa Arab. Bahkan, bahasa Arab saat ini berada di peringkat Power Language Index sebagai bahasa dunia terpenting kelima. Dan itu tentu bukan karena bahasa Arab sebagai faktor penyebaran terorisme," ujarnya.

Terkait hal ini, HNW mengimbau agar masyarakat dan generasi muda tidak terpancing dan saling curiga dengan berbagai stigma, termasuk soal bahasa Arab. Pasalnya, hal ini dapat memecah belah bangsa Indonesia.

"Generasi muda dan masyarakat umumnya, selain belajar menggunakan dan menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga perlu mempelajari banyak bahasa internasional, termasuk bahasa Arab untuk menghadapi kerja sama internasional dan memenangkan persaingan global. Tirulah para pahlawan dan bapak-bapak bangsa yang tidak phobia dengan bahasa asing termasuk bahasa Arab. Seperti, KH A Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, H Agus Salim, KH Mas Mansoer, KH Kahar Mudzakir, Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, M Natsir, tokoh-tokoh Pahlawan Nasional yang dikenal ahli dalam berbahasa Arab," pungkasnya.

(mul/mpr)