Susaningtyas Kertopati Klarifikasi soal Viral 'Bahasa Arab dan Terorisme'

Farih Maulana Sidik - detikNews
Jumat, 10 Sep 2021 10:24 WIB
Nuning Kertopati
Susaningtyas Nefo Handayani (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Pengamat pertahanan dan intelijen Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati buka suara soal viral pernyataannya terkait bahasa Arab dan terorisme. Dia menegaskan pernyataannya disalahartikan.

Pernyataan Susaningtyas yang viral itu terkait lembaga pendidikan dan bahasa Arab. Hal itu disampaikan Susaningtyas dalam diskusi virtual bertajuk 'Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?', sebagaimana dilihat pada Jumat (10/9/2021). Dalam diskusi tersebut, Susaningtyas menyebut banyak lembaga pendidikan yang berkiblat ke Taliban.

"Di negara kita ini kan sudah banyak sekali lembaga pendidikan yang kiblatnya itu sudah Talibanisme-lah. Mereka sudah tidak mau menghormati bendera, lalu tidak mau pasang foto Presiden, tidak mau menghafal menteri-menteri, tidak mau menghafal parpol-parpol, itu semua juga harus diwaspadai. Karena sekolah itu pabrik dari calon pemimpin kita, untuk mencerdaskan bangsa. Itu dulu dibenahi," kata Susaningtyas dalam diskusi tersebut.

Susaningtyas kemudian mengingatkan semua pihak untuk selalu waspada terhadap sel-sel tidur terorisme di Indonesia yang bisa bangkit karena kemenangan Taliban di Afghanistan. Saat inilah, dia bicara soal terorisme dan bahasa Arab.

"Bagaimana kita mau tidak khawatir ya, kalau anak muda kita, lalu murid-murid di sekolah sudah tidak mau menghormat pada Merah-Putih, lalu tidak mau melakukan lagu Indonesia Raya dan sebagainya dan semua itu berbahasa Arab. Saya bukannya mengatakan lalu bahasa Arab itu tidak baik, konotasi (bahasa Arab) itu teroris, tidak. Kalau itu arahnya sudah terorisme, radikalisme, itu bahaya," paparnya.

Klarifikasi Susaningtyas

Susaningtyas memberikan klarifikasi atas pernyataannya itu. Dia menegaskan tidak menuduh Islam sebagai bibit terorisme.

"Sebagai umat Islam, tentu saya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme. Saya sebagai muslim secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama saya. Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama, bahkan juga dengan umat beragama lain. Islam rahmatan lil alamin. Jadi saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio terorisme," kata Nuning.

Susaningtyas juga menyatakan memiliki dasar saat bicara tentang banyak lembaga pendidikan di Indonesia yang berkiblat ke Taliban. Menurutnya, banyak riset terkait hal tersebut.

"Saya pun menyampaikan apa adanya, berbagai temuan terkait dengan embrio terorisme (radikalisme), termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di negara kita. Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut," ucap pengamat pertahanan dan intelijen ini.

"Tentu saja tidak semua lembaga pendidikan berbasis muslim itu bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme atau bahkan Taliban. Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku. Soal pendidikan itu, sudah ada banyak lembaga yang sudah meriset hal ini," imbuhnya.

Sementara itu, terkait bahasa Arab, Nuning menyatakan menghormati bahasa tersebut. Dia menilai ada perbedaan konteks bahasa Arab yang digunakan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan penggunaan bahasa Arab untuk komunikasi sehari-hari di negara yang memiliki bahasa nasional.

"Terkait dengan bahasa Arab. Tentu saya sangat respect dengan bahasa tersebut. Ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita, bahasa Indonesia. Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya," paparnya.

Klarifikasi lengkap Susaningtyas dapat dilihat di halaman selanjutnya