PKS Dukung Pemberian Gelar Pahlawan Nasional ke Habib dan Ulama

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Rabu, 08 Sep 2021 09:46 WIB
Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mendukung pemberian gelar pahlawan nasional bagi habaib, ulama, serta pejuang perempuan yang telah berjasa menghadirkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini sebagai penghormatan atas jasa-jasa mereka.

Mereka yang dinilai layak menerima gelar pahlawan nasional, antara lain Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang dikenal dengan Habib Ali Kwitang, Pendiri Sekolah Diniah Putri Padang Panjang Rahmah El Yunusiah, Syaikhana Khalil yang merupakan guru bagi KH Hasyim Asyari dan KH A Dahlan, serta Anggota BPUPKI KH A Sanusi.

"Saya mendukung penuh apa yang diusulkan oleh berbagai pihak agar pemerintah memberikan pengakuan dan gelar pahlawan nasional. Juga sebagai pengamalan ajaran Bung Karno: Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Perjuangan dan kontribusi mereka untuk hadirkan Indonesia merdeka, sangatlah nyata," ujar Hidayat dalam keterangannya, Rabu (8/9/2021).

Usai menghadiri pertemuan dengan anggota DPRD DKI bersama Forum Silaturahmi Majelis Taklim se-Jakarta Pusat, Hidayat menjelaskan sejarah mencatat dengan tinta emas bagaimana perjuangan dan kontribusi mereka untuk eksistensi Bangsa Indonesia.

Ia mencontohkan Habib Ali Kwitang yang membantu dan menyelamatkan Bung Karno dengan memberikan tempat persembunyian di Masjid Kwitang dari kejaran penjajah Belanda dan Jepang. Bahkan, berdasarkan informasi, Bung Karno sempat nyantri bersama Habib Ali Kwitang selama berbulan-bulan atas saran dari tokoh Betawi M Husni Thamrin.

"Habib Ali Kwitang sangat berjasa mendukung kemerdekaan Indonesia dan penyebaran proklamasi kemerdekaan Indonesia di kalangan umat Islam melalui jaringan para habaib. Hingga kemerdekaan Indonesia cepat menyebar dan didukung oleh umat hingga ke majelis taklim. Karena Habib Ali Kwitang juga pendiri dan pimpinan pertama Majelis Taklim Kwitang yang merupakan salah satu cikal bakal organisasi-organisasi majelis taklim di Indonesia, yang ikut berjuang bagi hadir dan eksisnya Indonesia merdeka," terang Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Hidayat juga menyambut baik para tokoh yang mendukung usulan PWNU DKI Jakarta agar gelar pahlawan nasional juga diberikan kepada Habib Ali Kwitang. "Karena beliau bermukim di Jakarta, sudah sewajarnya bila tokoh-tokoh di Jakarta ikut memperjuangkan dan mendukung usulan mulia ini," jelasnya.

Menurutnya, PKS sebagai partai Islam sangat mendukung berbagai usulan pemberian gelar pahlawan nasional untuk para habaib dan ulama (termasuk ulama perempuan) yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. Sebelumnya PKS telah memberikan dukungan terhadap rencana pemberian gelar pahlawan kepada KH Sholeh Darat Semarang, KH Bisri Syansuri, dan KH Muhammad Kholil atau Syaikhona Kholil Bangkalan. Juga kepada Rahmah ElYunusiah, KHA Sanusi (anggota BPUPK dari PUI), serta Mr Kasman Singodimejo (Muhammadiyah, anggota PPKI).

"PKS sangat mendukung agar pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada para ulama (termasuk ulama perempuan), habaib dan Bapak/Ibu Bangsa yang terbukti jasa dan dharma baktinya untuk Indonesia Merdeka. Beliau-beliau itu dan keluarganya tentu tidak meminta pengakuan dari pemerintah, tetapi sudah selayaknya bila kita sebagai bangsa yang menghargai jasa pahlawan, mengakui dan menghormati peran bersejarah mereka," tuturnya.

Ia menilai dengan diberikannya gelar pahlawan akan merawat harmoni bangsa serta ingatan kolektif masyarakat bahwa kemerdekaan sejatinya merupakan warisan dan hasil perjuangan bersama, baik oleh kalangan nasionalis kebangsaan maupun nasionalis keagamaan sebagaimana dilakukan oleh para ulama dan Habaib. Dengan begitu diharapkan dapat semakin memperkuat rasa nasionalisme masyarakat.

"Agar selamatlah bangsa dari adu domba, dan makin kuatlah kohesi nasional berdasarkan ingatan kolektif atas harmoni dan kontribusi para pahlawan bangsa untuk Indonesia merdeka, sekalipun latar belakang mereka berbeda-beda (latar suku, agama, afiliasi politik), tapi mereka saling menghormati, saling mendukung dan bergotong-royong untuk hadirkan Indonesia merdeka. Dan membela eksistensi kemerdekaan Indonesia," pungkasnya.

(prf/ega)