Bamsoet: Bangun Generasi Pancasilais Bukan Pekerjaan Instan

Khoirul Anam - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 13:06 WIB
Bamsoet
Foto: MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menghadiri kuliah umum dalam rangka penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2021-2022 Universitas Trilogi secara virtual di Jakarta. Kuliah umum turut dihadiri oleh Ketua Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (YPPIJ) Aris Setyanto Nugroho, Sekretaris YPPIJ Indra Kartasasmita, Bendahara YPPIJ Wisnu Suhardono, Rektor Universitas Trilogi Mudrajad Kuncoro, dan Wakil Rektor Universitas Trilogi Kabul Wahyu Utomo.

Ketua DPR RI ke-20 ini juga mengapresiasi langkah Universitas Trilogi yang mengangkat tema Pancasila dan Kebinekaan dalam penerimaan mahasiswa baru sebagai wujud dalam membangun wawasan kebangsaan di lingkungan pendidikan tinggi. Menurutnya, membangun generasi Pancasilais dan menggugah kesadaran kebinekaan menjadi isu yang sangat esensial bagi generasi muda bangsa, khususnya para mahasiswa.

"Membangun generasi Pancasilais bukanlah pekerjaan instan. Seiring perjalanan kehidupan kebangsaan kita, Pancasila telah diuji dan ditempa oleh paradigma dinamika peradaban. Cara kita dalam merawat dan mempertahankan nilai-nilai luhur Pancasila agar menjadi jati diri dan jiwa bangsa, tentunya menuntut penyesuaian cara pandang dan pendekatan, sehingga mampu berkontestasi dengan nilai-nilai dan faham-faham kontemporer yang hadir melalui gelombang modernitas zaman dan arus globalisasi," jelas Bamsoet dalam keterangannya, Senin (6/9/2021).

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) sekaligus Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB KODRAT) ini menerangkan, derasnya arus globalisasi telah menepiskan batas-batas teritorial. Hal ini, kata dia, membawa nilai-nilai asing tanpa filtrasi dan perlahan mulai menggeser nilai-nilai kearifan lokal, bahkan cenderung mengabaikan nilai-nilai luhur Pancasila.

"Lembaga Survei Indonesia (LSI) mencatat dalam kurun waktu 13 tahun, masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10%, dari 85,2% pada tahun 2005 menjadi 75,3% pada tahun 2018. Center for Strategic and International Studi (CSIS) juga mencatat sekitar 10% generasi milenial setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain. Survei Komunitas Pancasila Muda yang dilakukan pada akhir Mei 2020 mencatat hanya 61% responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka. Sementara 19,5% di antaranya menganggap Pancasila hanya sekadar istilah yang tidak dipahami maknanya," terang Bamsoet.

Kepala Badan Penegakan Hukum, Keamanan, dan Pertahanan KADIN Indonesia ini menambahkan, gambaran di atas mengisyaratkan bahwa membangun generasi Pancasilais membutuhkan upaya yang serius. Selain itu, membutuhkan komitmen dari para pemangku kepentingan.

Dalam kaitan ini, kata dia, perguruan tinggi mempunyai peran strategis sekaligus krusial untuk membentuk generasi muda yang mempunyai karakter kuat, berjiwa Pancasila, dan berhati Indonesia.

"Setiap kita juga harus menyadari bahwa bangsa Indonesia terlahir dalam keberagaman, baik dari aspek identitas budaya, agama, suku, golongan, maupun latar belakang dan pandangan politik. Heterogenitas telah menjadi fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri, namun juga tidak bisa kita abaikan. Karenanya, merawat dan memperjuangkan kebinekaan dalam keberagaman adalah sebuah keniscayaan sekaligus sebuah tantangan," kata dia.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menekankan, tantangan mengelola kemajemukan bukanlah hal mudah. Ia mencontohkan, persoalan rasisme masih menjadi noda dalam kehidupan demokrasi di era modern seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

"Hadirnya black lives matter kembali menyeruak pasca aksi kekerasan oknum aparat yang menyebabkan tewasnya George Floyd, pria kulit hitam. Sikap rasis terlanjur menyebar luas, bahkan kepada oknum aparat yang seharusnya menjadi pembela dan pelindung nilai-nilai demokrasi," lanjut Bamsoet.

"Kejadian tersebut menjadi pembelajaran bahwa merawat kebinekaan, khususnya dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas tinggi seperti Indonesia, adalah sebuah proses yang tidak boleh berhenti pada satu titik. Merawat kebinekaan harus menjadi upaya berkesinambungan, juga harus dibangun oleh komitmen bersama, dan menjadi kerja bersama seluruh elemen bangsa," kata Bamsoet.

Sebagai informasi, Bamsoet mengapresiasi berbagai prestasi yang dicapai Universitas Trilogi. Antara lain meraih peringkat ke-30 dari 309 perguruan tinggi swasta terbaik se-DKI Jakarta.

Bamsoet menyebutkan, berdasarkan kinerja riset, Universitas Trilogi berhasil meningkatkan status menjadi klaster utama. Di samping itu, mendapatkan penghargaan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL DIKTI) wilayah III sebagai perguruan tinggi terbaik kedua di Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan persentase jumlah dosen yang memiliki jabatan fungsional akademik dan sertifikasi dosen terbanyak.

"Dengan berbagai raihan prestasi tersebut, saya yakin Universitas Trilogi mampu mewujudkan visi kampus menjadi universitas yang inovatif dengan mengembangkan technopreneur, kolaborasi, dan kemandirian dalam sistem ekonomi berdasar nilai-nilai Pancasila. Technopreneurship, kolaborasi, dan kemandirian adalah tiga pilar fundamental mewujudkan kampus yang berkualitas, maju, dan berdaya saing," ujarnya.

(prf/ega)