Tes Antigen Turun Harga, Pemerintah Harap Bisa Tingkatkan Testing

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 02 Sep 2021 23:27 WIB
Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menargetkan testing COVID-19 sebanyak 400 ribu per hari.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Keputusan menurunkan harga rapid tes antigen diharapkan dapat meningkatkan tingkat testing. Hal ini merupakan salah satu langkah penting dalam penanganan pandemi COVID-19.

"Harga Antigen yang lebih murah mendorong peningkatan testing, sekaligus meringankan beban masyarakat yang butuh swab test mandiri," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, dalam keterangan tertulis, Kamis (2/9/2021).

Diketahui, per Rabu (1/9) pemerintah menurunkan batas tarif tertinggi rapid test Antigen menjadi Rp 99.000 untuk area Jawa-Bali dan Rp 109.000 untuk area luar Jawa Bali. Penurunan harga tersebut merupakan hasil evaluasi terhadap SE Dirjen Pelayanan Kesehatan HK.02.02/1/4611/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antigen Swab, yang sudah berlangsung selama hampir satu tahun.

"Harga bahan baku pemeriksaan Antigen yang sudah jauh lebih murah saat ini. Selain itu, sekarang sudah lebih banyak rapid test antigen yang bisa diproduksi secara lokal di dalam negeri. Hal-hal ini yang menjadi pertimbangan utama menurunkan batas tarif tertinggi rapid test Antigen," paparnya.

"Penurunan harga ini ditentukan berdasarkan kajian yang matang dan kami harapkan bisa segera diterapkan oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan harga yang lebih rendah, aksesibilitas masyarakat untuk melakukan tes COVID-19 akan meningkat," tegas Johnny.

Ia juga mengingatkan seluruh jajaran dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota untuk mengawasi pemberlakuan harga tertinggi swab test mandiri COVID-19 di setiap rumah sakit atau lab pemeriksaan spesimen.

"Sebelumnya, batasan tarif tertinggi untuk rapid test antigen sebesar Rp 250 ribu di pulau Jawa, luar pulau Jawa Rp 275 ribu. Dengan batas baru yang ditetapkan ini, maka diharapkan akan terjadi penurunan harga lebih dari 50 persen. Semua pihak diharapkan bisa berkoordinasi, karena kebijakan ini semata-mata untuk rakyat Indonesia," pungkasnya.

(ega/ega)