Mengenang Perjuangan Pahlawan Bangsa Lewat Puisi di Rumah Digital Indonesia

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Senin, 30 Agu 2021 21:03 WIB
Rumah Digital Indonesia (Foto: Istimewa)
Foto: Rumah Digital Indonesia (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Siapa yang tak tahu penggalan puisi di atas? Puisi tersebut berjudul 'Pahlawan Tak Dikenal', karya penyair Toto Sudarto Bachtiar. Puisi tersebut ditulis pada 1955, 10 tahun setelah peristiwa 10 November yang dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Puisi 'Pahlawan Tak Dikenal' berkisah tentang pahlawan muda Indonesia yang gugur saat berperang melawan pasukan sekutu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sang pahlawan terbaring kaku setelah dadanya ditembak.

Puisi itu diberi judul 'Pahlawan Tak Dikenal' karena pahlawan tersebut memang tak dikenali identitasnya sampai akhir hayat. Yang pasti, ia telah rela berjuang demi bangsa Indonesia.

Puisi 'Pahlawan Tak Dikenal' kembali mengingatkan kisah-kisah perjuangan para pahlawan dalam berperang melawan penjajah, demi meraih dan mempertahankan Indonesia.

Rumah Digital Indonesia (Foto: Istimewa)Rumah Digital Indonesia (Foto: Istimewa)

Selain puisi tersebut, masih banyak puisi lainnya yang bertema perjuangan dan kemerdekaan, salah satunya 'Atas Kemerdekaan' karya Sapardi Djoko Damono.

'Atas Kemerdekaan' adalah puisi yang dibacakan jurnalis Najwa Shihab, dalam puncak acara Rumah Digital Indonesia bertajuk 'Selebrasi Nusantara' pada 16 Agustus 2021. Saat itu, Najwa berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre. Najwa membacakan puisi, sedangkan Papermoon Puppet Theatre memvisualisasikannya dengan latar suasana pantai yang dipadukan dengan musik khas Indonesia.

Berikut ini puisi 'Atas Kemerdekaan' karya penyair legendaris Sapardi Djoko Damono:

Kita berkata: jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
Di atasnya: langit dan badai tak henti-henti
Di tepinya cakrawala
Terjerat juga akhirnya
Kita, kemudian adalah sibuk
Mengusut rahasia angka-angka
Sebelum Hari yang ketujuh tiba
Sebelum kita ciptakan pula Firdaus
Dari segenap mimpi kita
Sementara seekor ular melilit pohon itu:
Inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah

Selain itu, puisi bertema perjuangan dan kemerdekaan yang lainnya yakni 'Lagu Seorang Gerilya' karya WS Rendra, 'Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari' karya Sitor Situmorang, 'Museum Perjuangan' karya Kuntowijoyo, dll.

Untuk mengenang kembali perjuangan para pahlawan bangsa ini pada bulan kemerdekaan, kamu bisa membaca puisi-puisi tersebut di Rumah Digital Indonesia.

Caranya, buka www.rumahdigitalindonesia.id, lalu klik peta, dan pilih 'Ruang Seni & Budaya'. Setelah itu, pilih 'Dinding Puisi'. Di sana ada 30 puisi pilihan yang bisa kamu baca.

Yuk kenang lagi perjuangan para pahlawan Indonesia lewat puisi-puisi yang ditampilkan di Rumah Digital Indonesia!

(mae/zak)