Pakar Minta Waspada Lonjakan Corona September, Jubir Luhut: Kapan Pun Bisa

Tim Detikcom - detikNews
Sabtu, 28 Agu 2021 15:24 WIB
Corona Viruses against Dark Background
Ilustrasi Corona (Foto: Getty Images/loops7)
Jakarta -

Epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, mengingatkan untuk mewaspadai lonjakan kasus Corona di bulan September jika tidak melakukan mitigasi. Juru bicara Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Jodi Mahardi mengatakan kapan pun bisa terjadi.

"Potensi kenaikan kasus COVID-19 akan selalu ada dan kapan pun bisa terjadi," kata Jodi saat dihubungi, Sabtu (28/8/2021).

Jodi mengatakan, berdasarkan pengalaman pemerintah menangani pandemi, untuk mengurangi kenaikan kasus, harus dilakukan isolasi terhadap warga yang positif dan dipisahkan dengan warga yang negatif. Selain itu, pemerintah akan melakukan upaya testing dan treatment terhadap warga.

"Terkait testing, kita terus mendorong upaya testing dan treatment, utamanya tracing kontak erat yang dibantu oleh tim TNI dan Polri sehingga dapat dideteksi secara dini," imbuhnya.

Sementara itu, terkait dengan tingginya angka kasus di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir, Jodi mengatakan saat ini sedang dilakukan perbaikan data, terutama yang tidak terlaporkan. Ia berharap persoalan terlambat pelaporan data dapat diselesaikan.

"Perlu diingat bahwa saat ini sedang dilakukan perbaikan data yang selama ini tidak dilaporkan oleh berbagai daerah. Maka dari itu, angkanya masih tinggi. Harapannya, semua data yang tidak dilaporkan dapat segera habis dan data-data pasien yang sudah lewat 14 hari bisa terverifikasi sehingga kita akan punya data riil," ujarnya.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengindikasikan masih banyak kasus Corona yang belum terdeteksi. Pakar epidemiologi mengingatkan kurangnya deteksi dini kasus Corona dapat meningkatkan angka kematian hingga lonjakan kasus Corona.

"Masih sangat banyak kasus yang tidak terdeteksi dan, sekali lagi, tes positivity rate kita mau 2 tahun kita masih selalu di atas 10 persen, dan jangankan lebih dari setahun ya, sebulan saja tes positivity rate itu dampaknya luar biasa pada kasus di masyarakat dan pada kematian," kata epidemiolog dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, kepada wartawan, Jumat (27/8/2021).

Menurut Dicky, deteksi dini kasus Corona di Indonesia masih minim. Bahkan dia menyebut testing Corona saat ini cenderung menurun.

"Terakhir kemarin yang diperiksa tanggal 26 Agustus 120 ribuan yang diperiksa dengan tes positivity rate totalnya di 12 persen. Bahkan kalau lihat PCR saja tes positivity rate mendekati 31 persen itu sangat tinggi. Berapa pun, di atas 10 persen pun artinya tidak terkendali pandemi," jelasnya.

Berbicara penurunan kasus, kata Dicky, juga harus disertai dengan positivity rate yang juga menurun. Dicky mengatakan kasus Corona dikatakan turun jika positivity rate tes Corona mulai rendah.

"Jadi kalau bicara penurunan di tengah tes positivity rate yang tinggi, ya tidak valid, jelas tidak valid. Jadi argumentasinya nggak kuat, akhirnya ini berpengaruh pada validitas data lainnya dan angka kematian, dan sekali lagi di tengah angka kematian yang ini tinggi loh," kata dia.

Lihat juga Video: Temuan WHO: Seperempat Penyintas Corona di Dunia Alami Long Covid-19

[Gambas:Video 20detik]