Cegah Kasus Serupa, HNW Minta Penista Agama Dihukum Maksimal

Erika Dyah - detikNews
Kamis, 26 Agu 2021 19:41 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengapresiasi langkah Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menangkap M Kece atas delik penistaan agama. Ia pun mendesak aparat penegak hukum, termasuk kejaksaan dan pengadilan, untuk dapat memberikan tuntutan dan hukuman maksimal atas kasus tersebut.

HNW menilai, M Kece layak dijatuhkan hukuman keras sebab telah berulang kali meresahkan umat dengan penistaannya terhadap agama Islam. Menurutnya, hukuman berat juga diperlukan untuk menghadirkan efek jera agar tidak ada lagi yang mengulangi perbuatan serupa, yakni penistaan terhadap agama Islam.

Ia menilai hal ini juga berguna untuk menjaga keharmonisan toleransi umat beragama serta menghindarkan Indonesia dari pecah belah dan adu domba oleh pihak-pihak yang anti agama.

"Jangan sampai perbuatan yang membahayakan kerukunan umat beragama dan NKRI seperti itu diulangi lagi oleh yang bersangkutan atau orang lain," kata HNW dalam keterangannya, Kamis (26/8/2021).

HNW menjelaskan, berdasarkan UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama dan Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sanksi pidana maksimal adalah lima tahun penjara.

"Karena kejahatannya, maka yang bersangkutan sudah layak dijatuhi hukuman maksimal tersebut," tambahnya.

Wakil Ketua Majlis Syura PKS ini pun berharap persoalan ini harus diusut dengan tuntas. Ia pun menyebutkan perlunya mengusut kemungkinan adanya jaringan anti agama atau kelompok yang ingin mengadu domba antar umat beragama di balik keberanian M Kece menistakan Islam dan Nabi-nya Umat Islam.

Ia menambahkan jangan sampai terulang kembali kasus-kasus penistaan terhadap Agama serta Simbol/Tokoh Agama Islam yang pelakunya ditangkap, akan tetapi hukumnya tidak ditegakkan dengan dalih 'gangguan jiwa'.

"Karena yang dilakukan M Kece nampak betul bahwa yang bersangkutan sehat dan menyadari apa yang dilakukannya. Tetapi apabila memang harus diperiksa kondisi kejiwaannya, perlu diperiksa oleh ahli kejiwaan yang profesional dan independen," jelas HNW.

Lebih lanjut, ia mengatakan kasus penistaan agama/simbol agama serupa semakin sering terjadi. Ia menyebutkan salah satu sebabnya adalah banyak kasus serupa yang mandek atau tidak ada kejelasan, karena alasan gangguan kejiwaan atau lainnya.

Dalam kesempatan ini, ia pun mengingatkan kasus serupa dari pelaku penistaan agama yang buron, yakni Jozeph Paul Zhang, dan hingga kini masih belum bisa ditangkap polisi.

"Saya apresiasi kinerja Polri yang menangkap M Kece, tetapi juga sekaligus mengingatkan bahwa Polri masih mempunyai pekerjaan rumah untuk menangkap penista agama yang lain yaitu Jozeph Paul Zhang. Bila semua kasus penistaan Agama yang meresahkan publik dan sudan dilaporkan ke polisi diproses secara adil, sesuai aturan hukum yang berlaku, maka itu dapat meyakinkan umat akan masih adanya hukum yang adil, dan bisa membuat efek jera agar tidak terulang lagi, sehingga kehidupan bangsa Indonesia yang harmonis dan saling toleran antar umat beragama, tidak terganggu," ungkapnya.

Selain itu, HNW juga mengingatkan DPR dan Pemerintah untuk segera membahas RUU Pelindungan Tokoh dan Simbol Agama sebagai alat hukum. Menurutnya, RUU ini akan berguna untuk membentengi semua agama yang diakui di Indonesia beserta simbol dan tokoh-tokohnya dari pelecehan dan penghinaan dan tindakan kriminalitas, sekaligus melengkapi aturan-aturan yang berlaku saat ini.

"RUU ini sangat penting karena dapat sebagai langkah preventif dan juga represif terhadap pelaku-pelaku penista apapun agama yang diakui di Indonesia beserta tokoh dan simbol masing-masing Agama," pungkasnya.

(akn/ega)