Menerka Alasan Wapres AS Tidak Mampir ke Indonesia

Andi Saputra - detikNews
Senin, 23 Agu 2021 18:09 WIB
Kamala Harris saat dilantik menjadi Wapes AS
Wapres AS Kamala Harris (Foto: CNN)
Jakarta -

Wakil Presiden Amerika Serikat (Wapres AS) Kamala Harris akan melawat ke Asia untuk pertama kalinya serta singgah ke Vietnam dan Singapura. Namun dari muhibah itu, Kamala tidak mampir ke Indonesia. Apakah Indonesia tidak penting lagi bagi AS?

"Tentu yang mengetahui secara pasti alasan mengapa Indonesia tidak dikunjungi adalah pemerintah AS. Namun sebagai pengamat, saya berpendapat tidak dikunjunginya Indonesia bukan karena Indonesia tidak lagi penting di mata AS secara geopolitik, justru sebaliknya. Dalam mata AS, bila Indonesia jatuh ke tangan China maka akan banyak negara yang ikut jatuh," kata Guru Besar Hukum Internasional UI, Prof Hikmahanto Juwana, kepada wartawan, Senin (23/8/2021).

Hikmahanto menduga ada tiga alasan tidak dikunjunginya Indonesia oleh Komala Harris. Pertama, kunjungan ke Vietnam karena Vietnam adalah negara yang secara agresif berhadapan head to head (langsung) dengan China terkait klaim China atas 9 garis putus.

"Kehadiran Wapres sebagai pejabat nomor 2 tertinggi di AS adalah pesan agar China tidak agresif dalam penggunaan senjata terhadap Vietnam. AS akan berada di belakang Vietnam untuk membantu setiap saat bila China melakukan serangan terbuka," kata
Rektor Universitas Jenderal A Yani, Bandung, itu.

Pesan seperti ini tidak mungkin terjadi bila Harris berkunjung ke Indonesia. Hal itu mengingat Indonesia tidak memiliki klaim tumpang tindih dengan China mengingat Indonesia tidak mengakui 9 Garis Putus yang diklaim oleh China.

Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana dalam diskusi 'Warga Tanpa Warga Negara' di kantor Para Syndicate, Jakarta, Jumat (19/8/2016)Guru Besar Hukum Internasional UI Hikmahanto Juwana (Foto: Ari Saputra/detikcom)

"Alasan kedua adalah dipilihnya Singapura. Singapura meski negara kecil namun memiliki ekonomi yang luar biasa di kawasan. Di samping itu Singapura adalah sekutu AS meski tidak terikat dalam suatu pakta pertahanan," ucap Hikmahanto.

Pesan yang ingin disampaikan oleh AS terhadap China adalah meski AS tidak lagi memiliki kedigdayaan di bidang ekonomi seperti masa lalu, namun AS bisa meminta sekutu-sekutunya yang memilki kekuatan ekonomi untuk berbagai beban (burden sharing) dalam menghadapi China.

"Terakhir ketidak-hadir Kemala Harris ke Indonesia sama sekali tidak menunjukkan kurang pentingnya Indonesia. Bisa jadi pemerintah AS hendak memberi kesempatan bagi Indonesia agar berkonsentrasi dan fokus dalam penanganan pandemi yang belakangan bergejolak," terang Hikmahanto.

Di samping itu, AS di bawah pemerintahan Joe Biden membangun kerja sama dengan Indonesia di level yang kongkret bukan simbolis untuk memberi pesan kepada China.

Hal ini penting bagi pemerintahan Biden yang berasal dari Partai Demokrat. Ideologi Demokrat adalah mengusung penghormatan terhadap HAM dan demokrasi.

"Bagi konstituen partai ini sulit untuk menghilangkan kesan bahwa Indonesia telah terbebas dari isu pelanggaran HAM dan Demokratisasi. Oleh karenanya pemerintahan Biden tetap melihat Indonesia penting namun pada saat bersamaan tidak dipersepsikan oleh konstituennya seolah Biden meninggalkan idealisme pengusungan HAM dan demokrasi," pungkas Hikmahanto.

Lihat Video: 20 Tahun Perang di Afghanistan, AS Habiskan 150-300 Juta Dolar Sehari

[Gambas:Video 20detik]



(asp/jbr)