Mahfud: Meski Tak Pakai Nama Negara Islam, Kita Perjuangkan Ajaran Islam

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Sabtu, 21 Agu 2021 12:24 WIB
Menko Polhukam Mahfud Md (dok Kemenko Polhukam RI)
Menko Polhukam Mahfud Md (dok Kemenko Polhukam RI)
Jakarta -

Menko Polhukam Mahfud Md mengatakan Indonesia lahir dari ijtihad para ulama. Hal itu mengajarkan bahwa perjuangan Islam adalah perjuangan substansi, bukan perjuangan formal simbolik.

Dia mengatakan, berdasarkan Pancasila, Indonesia adalah negara kesepakatan tanpa memandang perbedaan suku dan agama.

"Ibrahnya itu substantif. Persaudaraannya yang diperjuangkan, kedamaiannya, kesantunan, dan kejujurannya. Itu merupakan satu cara dakwah yang baik," ujar Mahfud dalam keterangannya, Sabtu (21/8/2021).

Hal itu disampaikannya saat dialog virtual dengan tokoh lintas agama Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Jumat (20/8). Pernyataan itu disampaikan Mahfud untuk merespons sekelompok orang yang ingin mendirikan negara Islam dengan berbagai aksi terornya di berbagai daerah Indonesia, khususnya di wilayah Sulsel.

Dia mengatakan, meskipun Indonesia tidak memakai nama 'negara Islam Indonesia' atau 'negara khilafah Indonesia', perjuangan substansi ajaran Islam telah dilakukan sejak Indonesia berdiri.

"Meski tidak pakai nama negara Islam, kita perjuangkan substansinya pakai substansi ajaran Islam, persaudaraan di antara sesama manusia," katanya.

"Islam itu agama kemanusiaan, tidak memandang agama apa pun. Semua adalah saudara sesama manusia," imbuh Mahfud.

Dia juga menegaskan Indonesia sebagai negara berdasarkan Pancasila adalah perjanjian suci antaranak bangsa.

Menag Ajak Setia pada Pancasila

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan satu fakta sejarah yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa diingkari adalah Indonesia merdeka bukan hanya hasil Islam saja. Tokoh agama Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha ikut berjuang dalam memerdekakan Indonesia.

"Maka menjadi kewajiban kita semua menjaga Indonesia ini tetap utuh sebagai warisan dari para tokoh kita terdahulu. Kalau kita tidak mau bersama menjaga Indonesia, artinya kita menginjak-injak apa yang dulu diperjuangkan oleh para pendahulu kita dan itu tentu bukan ajaran dari agama kita," ujar Yaqut.

Dalam kesempatan ini, Yaqut mengingatkan agar jangan mau dikotak-kotakkan dalam berbagai varian paham agama yang berbeda. Yaqut mengajak para tokoh agama yang hadir secara virtual setia pada ideologi negara Pancasila.

"Pancasila ini final, tidak bisa diganggu dengan bentuk ideologi yang lain. Pancasila adalah kesepakatan untuk hidup bersama dalam sebuah wilayah bernama NKRI. Dan ini sudah jadi alasan yang cukup bagi kita semua untuk tetap hidup damai berdampingan dan saling menghargai dengan agama sebagai inspirasi kita bersama," tambahnya.

Menurut Yaqut, tidak ada ideologi di dunia yang sekuat Pancasila. Ia berharap para tokoh agama sama-sama menjaga ideologi Pancasila yang mampu mempersatukan perbedaan.

"Percayalah bahwa radikalisme, pemahaman agama yang fatalistik dan membabi buta, itu pada ujungnya adalah keruntuhan tatanan masyarakat," pungkas Yaqut.

Hadir dalam dialog virtual ini tokoh lintas agama, pimpinan pondok pesantren, pimpinan ormas lintas agama, tokoh adat, dan Forkopimda se-Sulawesi Selatan.

Dialog ini digelar Kemenko Polhukam untuk menjaga kondisi politik dan keamanan dalam negeri tetap kondusif dengan terus menjalankan disiplin dan protokol kesehatan. Itu sebabnya, hadir pula perwakilan BNPB untuk menjelaskan pentingnya protokol kesehatan dan vaksinasi yang diharapkan dipandu oleh para tokoh lintas agama.

Simak video 'Jokowi Ingin Pancasila Bisa 'Dibumikan' dengan Cara Kekinian':

[Gambas:Video 20detik]



(jbr/jbr)