Pemerintah Pulangkan 121 WNI dan 8 Jenazah dari Taiwan

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 21 Agu 2021 10:32 WIB
Jakarta -

Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) memfasilitasi kepulangan atau repatriasi 121 Pekerja Migran WNI dari Taiwan. Mereka tiba menggunakan pesawat Batik Air di Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, Banten, pada Jumat (20/8/2021). Selain itu sebanyak 8 jenazah turut dipulangkan.

Kepala BP2MI, Benny Rhamdani mengatakan 121 orang tersebut terdiri dari, 105 ABK, 1 PMI (pekerja migran Indonesia) yang menderita sakit berat, 2 PMI yang menderita sakit ringan, 10 orang (ibu dan anak), serta 3 PMI terkendala.

"Kami mengucapkan selamat datang di Tanah Air kita, Indonesia. Tentu dengan harapan, semua insyaallah sehat. Mohon dimaklumi setiap tiba dari luar negeri, harus ada pelayanan seperti ini. Ini sebetulnya merupakan perhatian negara kepada seluruh warga negaranya, untuk memastikan bapak dan ibu sehat. Apa artinya kita pulang kampung, melepas rasa rindu, kemudian kita tidak sehat dan bertemu keluarga," ujar Benny dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/8/2021).

Ia menjelaskan nantinya mereka akan ditampung terlebih dahulu di Wisma Atlet Pademangan guna menjalani karantina mandiri. Proses karantina ini agar para PMI yang baru saja pulang dapat berjumpa dengan sanak keluarganya dalam keadaan sehat.

"Seluruh ABK/PMI Terkendala akan dikarantina di Wisma Karantina Pademangan selama 8 hari sebelum difasilitasi kepulangan ke daerah asal oleh BP2MI," katanya.

Diungkapkan Benny masih terdapat 7 ABK yang batal berangkat karena terdapat 3 orang yang masih berada dalam investigasi kapal tenggelam, serta 4 orang yang memutuskan untuk melanjutkan kontrak kerja. Selain itu, PMI sakit berat atas nama Munawaroh, gagal dipulangkan karena alasan keselamatan.

"Dikarenakan hal-hal tersebut, maka total PMI yang dapat difasilitasi kepulangannya menjadi 121 orang, yang terdiri dari 105 ABK, 1 PMI sakit berat, 2 PMI sakit ringan, 10 orang ibu dan anak, serta 3 PMI terkendala," terangnya.

Benny mengatakan 1 pekerja migran yang sakit berat langsung dirujuk ke Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Bhayangkara dengan menggunakan ambulans. Adapun PMI tersebut bernama Tuti Juhaeti yang menderita stroke berat. Sementara para ABK yang dipulangkan merupakan ABK di pelabuhan Taiwan.

"Khusus ABK, mereka stranded di Taiwan, dan proses mereka tidak boleh turun ke darat selama kapal mereka ada di Pelabuhan Taiwan. Ada yang 1 sampai 2 tahun. Proses negosiasi antara Pemerintah Indonesia dengan Taiwan dilakukan dengan cukup alot," paparnya.

Namun dalam gelombang kepulangan ini, terdapat permasalahan, yakni para ABK belum mendapatkan hak-haknya secara utuh. Terkait hal tersebut, Benny tegaskan pihaknya akan menindak perusahaan-perusahaan terkait agar dapat bertanggung jawab.

"Tapi yang paling penting khusus untuk ABK, banyak dari mereka yang belum mendapatkan hak-haknya. Sebagai Kepala BP2MI, saya ingin ingatkan, sampai di liang kubur pun kita akan kejar karena itu adalah hak-hak PMI yang harus segera dibayarkan. Mereka harus bertanggung jawab dan harus siap untuk kita seret melalui proses hukum, jika tidak ada pertanggungjawaban dan niat baik untuk menuntaskan segala hal yang menjadi kewajiban bagi Pekerja Migran Indonesia," tuturnya.

Sementara 8 jenazah yang turut dipulangkan akan diantarkan sampai ke kampung halaman dengan menggunakan ambulans oleh BP2MI.

(prf/ega)