Hargai Karya Lokal dan Hemat Anggaran, DJKI Gunakan GeNose

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 18 Agu 2021 13:06 WIB
Jakarta -

Untuk mendeteksi kemungkinan paparan virus corona terhadap para tamu yang datang ke lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) harus menjalani tes GeNose C-19. Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Freddy Haris mengaku lebih suka menggunakan alat buatan para ahli dari UGM itu sebagai bentuk apresiasi.

"Kita ini kan gembar-gembornya mencintai produk dalam negeri, tapi GeNose ditentang hebat sampai dilarang-larang di Stasiun Kereta," kata dia dalam program Blak-blakan di detik.com, Rabu (18/8/2020).

Selain soal apresiasi, Freddy Harris yang ikut terlibat dalam penanganan Covid-19, menyebut harga GeNose paling murah dan stabil. Ia membandingkannya dengan tes PCR yang dipatok di atas Rp 1 juta, kini setelah banyak dikritik harganya diturunkan menjadi kisaran Rp 500 ribu. Begitu juga dengan uji Antigen yang sempat dipatok ratusan ribu, belakangan melorot di bawah Rp 100 ribu.

"Saya pikir ya GeNose dari dulu Rp 20 ribu- Rp 30 ribu saja. Artinya di sini kalau mau cerita hemat anggaran ya di situ buat kita cukup," tegas Freddy Harris.

Menurut Freddy, GeNose saat ini sedang terus diuji dan disempurnakan untuk mendapatkan paten. Andai, ada alat deteksi seperti Antigen yang dibuat oleh putra-putri Indonesia, dia pun akan menyokong penuh dan ikut menggunakannya.

Di luar itu, Freddy Harris mengajak para peneliti di tanah air untuk ikut berkonsentrasi mengembangkan obat Covid selain membuat vaksin. Persoalan kemudian ada yang mengkritik, sejauh masih dalam koridor ilmiah ya harus dihadapi secara profesional. Sebab bagaimanapun akan terjadi persaingan dengan industri obat besar dunia, yang sangat mungkin tak ingin ada pesaing baru.

(deg/jat)