Analisis Sikap Legislator PSI yang Protes Saat Kena Ganjil Genap

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Jumat, 13 Agu 2021 08:27 WIB
Anggota DPRD DKI F-PSI Adu Mulut dengan Polisi Kena Ganjil Genap.
Viani Limardi saat terjaring razia gage DKI. (Wilda/detikcom)
Jakarta -

Anggota DRPD DKI Jakarta Fraksi PSI, Viani Limardi, adu mulut dengan petugas saat terjaring razia ganjil-genap (gage). Psikolog menilai aksi Viani itu terjadi lantaran anggota Dewan itu cenderung merasa dirinya lebih tinggi sebagai pejabat.

Aksi adu mulut itu terjadi pada Kamis (12/8) kemarin, sekitar 08.00 WIB. Mobil Viani yang memiliki nomor polisi ganjil terpaksa diberhentikan saat melaju dari arah Ragunan hendak ke arah Jalan Gatot Subroto.

Sebelum mobilnya diputar balik, Viani menanyakan kepada petugas cara agar dirinya bisa ke Penjaringan, Jakut. Petugas mengarahkan ke Jalan Rasuna Said, serta mobil Viani tidak bisa melintasi jalan Sudirman-Thamrin dan Jalan Gatot Subroto.

Viani pun akan memprotes kebijakan selama PPKM yang terus berganti. Menurutnya, dia turut andil dalam peraturan ini.

"Oke, nanti saya akan protes ini, saya yang bikin aturannya," tutur Viani Limardi.

Peneliti Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Naufal Umam, mengatakan sikap arogan pejabat publik sering kali terjadi di jalan raya. Dia mengatakan politik di Indonesia tidak memiliki budaya yang baik.

"Politik di Indonesia tidak memiliki budaya yang baik, hampir bisa dipastikan semua orang yang punya jabatan tinggi akan merasa lebih tinggi dibanding orang lainnya, ada entitlement kalau 'saya harusnya mendapatkan lebih, saya harusnya diperlakukan spesial', 'saya lebih tahu dari orang lain' dan sebagainya," kata Naufal kepada wartawan, Kamis (12/8/2021).

Setelah terjadi insiden adu mulut dengan petugas itu, Viani Limardi sempat mengunggah video di Instagram-nya yang mengatakan bahwasanya dia bingung lantaran terjaring razia ganjil-genap, padahal dia ikut dalam membuat aturan. Menurut Naufal, tindakan yang dilakukan Viani adalah arogan namun masih rasional.

"Dalam psikologi sosial sudah lumrah juga mereka yang berhasil menjadi tokoh publik ditengarai memiliki kepribadian gelap yang tinggi, utamanya pada dimensi narsisisme yang mendorong entitlement (merasa berhak) itu tadi. Beruntung dia cepat merasa salah karena post-nya langsung dihapus, jadi arogannya masih rasional kalau menurut saya," kata dia.

Simak video 'Catat! Ini Kendaraan yang Kebal Ganjil Genap di DKI Jakarta':

[Gambas:Video 20detik]



Simak berita selengkapnya pada halaman selanjutnya.