Kelemahan Umat (3)

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 06 Agu 2021 06:57 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Tulisan ketiga (terakhir) seri Kelemahan Umat ini akan membahas tentang lemahnya kemampuan spiritual dan pemahaman tentang dunia. Sering kita lebih mengunggulkan peran makhluk secara lahir (yang terbuat dari tanah liat), dibandingkan peniupan ruh yang merupakan rahasia pemuliaan Allah Swt. Padahal sudah ada perintah dalam firman ini, " Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan meniupkan ke dalamnya ruh ( ciptaan )-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud." ( QS. al-Hijr [16] : 29 ).

Perintah tunduk dengan bersujud berarti mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan. Bukannya menoleh pada makhluk yang berarti bersandarnya selain Allah. Itu akan menjadikan angin kemaksiatan bertiup sangat kencang mengalahkan pelita ketakutan dalam hati. Jika masa kegelapan ini berlangsung panjang, akan membuat hati menjadi keras. Pada akhir-akhir ini kita sangat antusias dengan istilah Sekolah Modern dan istilah lainnya. Apakah dengan sekolah modern bisa menjamin mencetak anak didiknya lebih memahami konsepsi Rabbani ?.

Seorang pemikir Islam Muhammad Iqbal memberikan tanggapan tentang sekolah modern, " Bahwa sistem pendidikan sekolah modern terkadang telah membuka mata para generasi muda pada berbagai hakikat dan makrifat. Akan tetapi sistem itu tidak pernah mengajarkan bagaimana matanya menangis dan hatinya khusyu". Kelembutan hati seseorang menjadi prioritas dalam sistem pengajaran menuju pemahaman konsep Rabbani.

Kita masih sering disibukkan oleh bentuk permata dan kerangka, padahal yang paling utama adalah memahami intinya. Adapun ajaran agama Islam yang paling penting adalah pensucian hati dan pembersihan diri. Mari kita simak firman Allah, " Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." ( QS. asy-Syams [91] : 09-10 ).

Mensucikan jiwa dan selalu membersihkan diri hendaknya kita jadikan tujuan, sehingga kita tidak tertipu atas gemerlapnya permata dan kerangka. Kita masih mendapati ayat-ayat Al-Qur'an menjadi hiasan dinding dan tasbih digantungkan pada kaca spion mobil, prilaku ini lebih mementingkan kemasan bukannya inti tentang pemahaman dan pengamalan ajaran agama. Jika manusia mengalami pelemahan spiritual, maka prilaku masyarakat akan berubah dan perjalanan sejarah juga mengalami perubahan. Maka mulailah para generasi muda muslim memperkokoh landasan spiritual, agar menjadi generasi unggul yang akan memberikan kontribusi untuk peradaban.

Persoalan memandang dunia ini yang sering menjadi penyebab kurang unggulnya umat. Dunia diciptakan Allah Swt. untuk ladang bagi manusia dalam mempersiapkan bekal akhirat. Sedang manusia diciptakan untuk kehidupan akhirat. Kita simak firman Allah dibawah ini, " Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa." ( QS. al-An'am [6] : 32 ). Dan surah Fafhir ayat 5, " Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu."

Dari kedua ayat tersebut, bahwa kehidupan dunia itu rendah jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Namun dunia sendiri dalam beberapa ayat mempunyai arti yang positif. Apa yang Islam larang dalam kehidupan dunia adalah, mencintai kenikmatan-kenikmatan dunia sedemikian rupa sehingga lebih mementingkan dunia dari pada mencari ke ridhaan Allah. Adapun dunia yg berarti positif seperti pada surah al-Baqarah ayat 201, " Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a," Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."

Disusul dengan surah ali-Imran ayat 148," Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan."

Jadi kurang tepat jika mengabaikan dunia karena kehidupan di dunia laksana sebagai ladang dalam bercocok tanam, dan memanennya kelak di akhirat. Maka isilah kehidupan dunia dengan amal perbuatan, karena amal ini bagaikan kekasih yang mengikuti kita sampai mahsyar. Contoh teladan dari sahabat Abu Bakar, bahwa beliau mengisi kehidupan dunia sebaga pedagang namun tidak terlena dengan nikmatnya dunia. Ketika ada perjuangan membela Agama, Abu Bakar memberikan seluruh hartanya. Hal yang sama ( dalam arti tidak mementingkan kenikmatan dunia namun untuk keridhaan Allah ) dilakukan para sahabat lainya seperti Usman bin Affan, Abdurahman bin Auff dan lain lain.

Dalam membangun sumber daya umat, diperlukan landasan spiritual yang kuat dan pemahaman dunia sebagai ladang mengumpulkan bekal akhirat. Semoga kondisi umat ke depan dengan landasan spiritual dan pemahaman atas kehidupan dunia akan memberikan kontribusi peradaban dunia.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

Simak juga 'Cerita Mahfud Soal Hoax Konspirasi Corona Hancurkan Islam':

[Gambas:Video 20detik]



(erd/erd)