PKB: Waspada Politikus Ikan Lele Bukan Berarti Kritik Dilarang

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 13:26 WIB
Faisol Riza Ketua Komisi VI Ketua DPP PKB
Faisol Riza (Foto: dok. pribadi)
Jakarta -

Ketua DPP PKB Faisol Riza sepakat dengan anggapan politikus ikan lele hanya memperkeruh suasana. Namun, menurutnya, anggapan itu bukan berarti melarang adanya kritik.

"Tepat sekali yang disebut Abdul Mu'ti bahwa dalam keadaan pandemi jangan ada yang memperkeruh suasana. Tapi bukan berarti kritik dilarang," kata Faisal kepada wartawan, Kamis (5/8/2021).

Faisol mengatakan justru pemerintah selalu membutuhkan kritik yang substansial terkait persoalan yang ada. Namun kritik itu harus bersifat konstruktif dan solutif.

"Pemerintah sekarang ini justru membutuhkan kritik untuk melihat di mana kemacetan-kemacetan substansial dan koordinatif dalam penanganan pandemi. Juga membutuhkan masukan-masukan bagaimana membangkitkan kembali perekonomian nasional yang sekarang berat, terutama merespons peluang-peluang global," katanya.

Ketua Komisi VI DPR ini mengatakan politikus ikan lele itu bukan hanya ditujukan untuk politikus. Tapi juga publik yang kerap menyebar berita-berita pemicu kerusuhan.

"Yang muncul di berbagai media, termasuk media sosial, kan bukan hanya politisi. Malah banyak kasus ITE yang justru bukan politisi tapi lebih banyak tokoh-tokoh masyarakat atau public figure lain," ujarnya.

Sebelumnya, istilah politikus ikan lele itu diungkapkan oleh Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. Dia mengutip istilah itu dari Buya Syafii Maarif.

Menurutnya, sifat politikus ikan lele senang memperkeruh suasana dan mengadu domba di masa pandemi COVID-19. Itulah yang harus diwaspadai.

"Saya menyebut politisi ini tidak selalu mereka yang menjadi pengurus partai politik, tetapi orang yang pikirannya selalu mengaitkan berbagai keadaan itu dengan politik, berbagai persoalan dipolitisasi," kata Mu'ti.

"Politisi ikan lele itu adalah politisi yang semakin keruh airnya maka dia itu semakin menikmati kehidupannya sehingga karena itu sekarang ini banyak sekali orang yang berusaha memancing di air keruh dan banyak orang yang tidak sekadar memancing di air keruh, tapi juga memperkeruh suasana," sambung Mu'ti.

Mu'ti menjelaskan politikus ikan lele adalah mereka yang bersikap partisan dan menggunakan popularitasnya sebagai pendengung. Di setiap kelompok partisan tersebut, Mu'ti menengarai selalu ada beberapa orang yang mengambil peran sebagai politikus ikan lele.

"Misalnya banyak yang mengaitkan dengan teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa COVID ini adalah buatan China, dan ini adalah cara China melumpuhkan Indonesia dan sebagainya. Saya kira pandangan-pandangan spekulatif itu tidak dapat kita benarkan tapi itu juga berseliweran di masyarakat sehingga dalam keadaan yang serba sulit seperti sekarang ini ada kelompok-kelompok tertentu yang saya pinjam istilahnya Buya Syafii Maarif itu seperti politisi ikan lele," jelas Mu'ti.

(eva/imk)