Cerita Warga DKI Gagal Divaksin Gegara NIK Dipakai Orang Lain di Tangsel

Kadek Melda Luxiana - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 10:32 WIB
medical
Ilustrasi vaksinasi (Getty Images/iStockphoto/show999)
Jakarta -

Yuni Trianita (43) gagal menerima suntikan vaksin COVID-19. Hal itu dikarenakan nomor induk kependudukan (NIK)-nya sudah teregistrasi menerima vaksin COVID-19 tahap 1 di klinik dr Ranny di Tangerang Selatan (Tangsel).

"Awalnya suami saya yang ngecek kejelasan, data biasanya di (aplikasi) Jaki dia ngecek. Ternyata nama saya sudah ada, tercatat udah vaksin. Terus dia tanya lagi sama saya, dia kan ngecek di kantor. 'Orang belum', saya pikir gitu juga. 'Coba cek di (aplikasi) PeduliLindungi', saya cek juga di rumah, di PeduliLindungi, sama (hasilnya)," kata Yuni saat dihubungi detikcom, Kamis (5/8/2021).

"Di situ juga tertulis nama saya, NIK saya, tanggal lahir. Malah sertifikatnya sudah ada dosis pertama di klinik di Tangsel. Klinik dr Ranny di situ ada datanya sih," lanjut Yuni.

Bahkan jadwal vaksinasi COVID-19 dosis kedua atas NIK-nya sudah terdaftar untuk 19 Agustus mendatang di klinik yang sama. "Tanggal 22 Juli itu dosis pertama di klinik itu, dosis kedua tanggal 19 Agustus di situ terteranya," ucap dia.

Yuni mengaku sampai saat ini dirinya belum pernah divaksinasi COVID-19. Dia merasa bingung dengan adanya penerima vaksin yang menggunakan NIK-nya.

"Belum sama sekali, makanya saya bingung. Ketika ketahuan itu, saya sama sekali belum pernah ke mana-mana. Belum pernah ikut vaksin, pokoknya memang belum pernah. Saya nggak ada itu vaksin dosis pertama itu, sekali pun belum pernah," ujarnya.

Yuni menjelaskan dirinya menggunakan alamat orang tua di wilayah administrasi DKI Jakarta untuk data diri di e-KTP miliknya. Namun Yuni bersama suami tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

"Alamat KTP di Jakarta Selatan, tapi tinggal di Cibitung, Bekasi. Makanya saya nggak mungkin banget mesti jauh-jauh ke Tangerang untuk vaksin. Toh, di Jakarta, di tempat orang tua saya di sana banyak. Kenapa mesti jauh-jauh di sana, logikanya," ucapnya.

Baca cerita Yuni hubungi hotline 119, namun tak ada solusi di halaman selanjutnya.