Perang Baliho Para Politikus Dinilai Justru Bikin Masyarakat Muak

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 05 Agu 2021 08:32 WIB
baliho
Baliho politikus (Foto: dok. detikcom)
Jakarta -

Perang baliho para politikus semakin marak, mulai Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, hingga Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Lantas apakah pemasangan baliho masih efektif untuk meningkatkan popularitas?

Poster atau baliho besar AHY Siap, menghiaji jalan Gatsu Jakarta Rabu (25/7/2018).Poster atau baliho besar AHY Siap, menghiaji jalan Gatsu Jakarta Rabu (25/7/2018). Foto: dikhy sasra

Pakar komunikasi UI Firman Kurniawan Sujono mengatakan memang baliho memiliki keunggulan tersendiri. Apalagi di tempat strategis yang banyak orang berlalu lalang, baliho akan menjadi pusat perhatian publik.

"Secara umum billboard/baliho/media luar ruang memiliki keunggulan: mudah dilihat, karena diletakkan di jalan-jalan yang terbukti banyak dilalui kendaraan. Ukurannya yang besar, secara struktural 'memaksa' orang untuk melihatnya. Apalagi kalau diletakkan di kawasan yang strategis, pasti tak terhindarkan, orang lewat tak bisa mengelak," kata Firman kepada wartawan, Rabu (4/8/2021) malam.

"Selain itu, pada ukurannya yang ekstrabesar, biasanya pesan yang dimuat tak banyak. Karena waktu yang singkat, orang untuk melalui jalanan. Sehingga pesan akan sistematis dan fokus. Dalam keadaan jumlahnya tak berlebihan, di jalan tempat memasang baliho, alat komunikasi ini akan menarik perhatian dan mampu mengantarkan pesan," lanjutnya.

Tapi, menurut Firman, pada musim kampanye, perang baliho antarpolitikus akan menjadi kejenuhan bagi masyarakat. Menurutnya, pesan yang ada di baliho tidak sampai di masyarakat, tapi malah sebaliknya.

"Namun, dalam musim kampanye atau event lain, di mana terjadi kompetisi baliho, justru kejenuhan yang terjadi. Pesan memang memaksa masuk, tapi persepsi yang terbentuk bisa negatif. Masyarakat muak, dan secara sadar memilih bersikap sebaliknya dari tujuan pesan. Masyarakat menolak pesan," ujarnya.

Firman menilai, seiring dengan perkembangan teknologi, aspek kreativitas dibutuhkan agar pemasangan baliho menjadi efektif. Lebih baik lagi, menurutnya, jika baliho itu membuat masyarakat bergerak untuk membagikan ke media sosial.

"Aspek kreativitas, misalnya, berupa tampilan unik baliho, yang membuat orang memperhatikan, memotretnya dan memuatnya di media sosial. Di sini, baliho yang kreatif mengalami alih wahana ke media lain. Lebih banyak orang yang menyimak ketika tampil di media sosial, karena ada orang ingin menceritakan keunikannya," ucapnya.

Simak juga video 'Baliho Puan di Mana-mana, Bagaimana Survei Elektabilitasnya?':

[Gambas:Video 20detik]