KKP Ungkap Alasan Larang Lalu Lintas Benur Ukuran di Bawah 5 Gram

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 04 Agu 2021 12:09 WIB
KKP
Foto: Dok. KKP
Jakarta -

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot budi daya benih bening lobster (BBL)/benur dalam negeri. Hal ini sejalan dengan Permen KP Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di Indonesia.

Sesuai Permen tersebut, budi daya segmentasi Pendederan I dimulai dari BBL hingga ukuran 5 gram dan dilakukan di lokasi penangkapan. BBL ukuran di bawah 5 gram juga tidak boleh dilalulintaskan ke luar daerah penangkapan selain untuk riset, pengkajian, dan/atau penerapan di wilayah Indonesia.

Profesor Riset Badan Riset Sumber Daya Manusia (BRSDM) KKP, Profesor Ketut Sugama menjelaskan aturan ini bukan menghalangi pelaku usaha, namun untuk menjamin pengoptimalan budi daya BBL. Terlebih hasil kajian menunjukkan potensi hidup BBL ukuran di bawah 5 gram di luar daerah tangkapan masih relatif rendah.

"Salah satu fase kritis dalam kegiatan pembudidayaan lobster adalah pada tahapan pemeliharaan BBL sampai dengan ukuran 5 gram, di mana pada fase tersebut tingkat kelangsungan hidupnya masih rendah di bawah 30%," ujar Ketut dalam keterangan tertulis, Rabu (4/8/2021).

Lebih lanjut Ketut menjelaskan terdapat beberapa faktor penyebab rendahnya tingkat kelangsungan hidup BBL ukuran di bawah 5 gram. Salah satunya benih lobster masih rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti suhu, cahaya, dan salinitas. Sementara benih lobster yang telah mencapai ukuran 5 gram ke atas, sudah lebih tahan terhadap perubahan lingkungan.

"Jadi KKP membuat keputusan melalui pertimbangan yang matang. Kita justru ingin proses budi daya ini berjalan optimal. Pada ukuran di atas 5 gram itu, tingkat kelangsungan hidup benih lobster untuk kegiatan budidaya di luar daerah tangkapan, menjadi lebih tinggi," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam Permen KP 17/2021 tersebut disebutkan bahwa usaha budi daya lobster di Indonesia terbagi dalam 2 segmen, meliputi Pendederan dan Pembesaran. Segmentasi tersebut terbagi lagi dalam 4 kategori, yakni Pendederan I, Pendederan II, Pembesaran I, dan Pembesaran II.

Pendederan I berarti proses budi daya dimulai dari BBL/benur hingga ukuran 5 gram. Kemudian Pendederan II budidaya BBL ukuran di atas 5 gram sampai dengan 30 gram. Sedangkan Pembesaran I di atas 30 gram sampai dengan 150 gram, dan Pembesaran II di atas 150 gram.

Dalam hal ini, Pendederan I harus dilakukan di lokasi penangkapan karena tidak boleh dilalulintaskan ke luar daerah penangkapan selain untuk kepentingan riset pendidikan, penelitian dan pengembangan, pengkajian, dan/atau penerapan di wilayah Negara Republik Indonesia.

Adapun tujuan KKP menerbitkan aturan soal lobster salah satunya untuk menjaga keberlanjutan dan ketersediaan sumber daya perikanan. Aturan ini juga bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, kesetaraan teknologi budidaya, pengembangan investasi, peningkatan devisa negara, serta pengembangan pembudidayaan lobster.

(akn/ega)