Nasabah Gugat Jiwasraya, Minta Polis Rp 273 Miliar Dikembalikan

Andi Saputra - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 15:52 WIB
Ilustrasi Palu Hakim
Ilustrasi pengadilan (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Skandal korupsi Jiwasraya belum berakhir. Meski bekas bos-bos Jiwasraya sudah dihukum dengan pasal korupsi, uang nasabah belum pulih sepenuhnya. Gugatan perdata pun dilayangkan.

Sebagaimana dikutip detikcom dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (SIPP PN Jakpus), Selasa (3/8/2021), gugatan itu dilayangkan oleh dua penggugat, yaitu PT Bina Sarana Mekar dan Odilia Francesca ML. Sedangkan tergugat adalah PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Berikut ini isi gugatan keduanya:

1. Mengabulkan gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Tergugat telah melakukan Wanprestasi;
3. Menghukum Tergugat untuk memberikan ganti rugi berupa;
4. Membayar segala biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh Para Penggugat akibat dari tidak dipenuhinya janji Tergugat selama 3 tahun sebesar Rp 1 miliar.
5. Membayar nilai 42 polis milik para penggugat sebesar Rp 255.496.399.573.
6. Membayar bunga terhadap kenikmatan yang dimiliki oleh Penggugat dari dana ke 42 Polis tepat pada waktunya. Bunga kenikmatan itu sebesar Rp 17.884.747.970.

Maka, total nilai gugatan mencapai Rp 273 miliar.

Selain menggugat secara perdata, keduanya sedang menggugat langkah restrukturisasi Jiwasraya oleh Menteri BUMN Erick Thohir ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Gugatan itu terdaftar dengan nomor perkara 111/G/2021/PTUN.JKT. Pihak yang digugat adalah:

1. Menteri BUMN
2. PT Asuransi Jiwasraya
3. Menteri Keuangan
4. Otoritas Jasa Keuangan.

PT Bina Sarana Mekar dan Odilia Francesca ML meminta PTUN Jakarta menyatakan batal atau tidak sah Restrukturisasi Asuransi Jiwasraya sebagaimana ditetapkan oleh Tergugat I dan Tergugat III sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Keuangan dan Menteri BUMN dengan Nomor SK 143/MBU/05/2020 & Nomor 227/KMK.06/2020 serta menyatakan batal atau tidak sah:- Surat Nomor 00060/S/T/BRS/0121 tertanggal 20 Januari 2021 perihal Pemberitahuan atas Restrukturisasi Polis.

Sebagaimana diketahui, kasus ini bermula saat Jiwasraya membuat produk saving plan. Salah satu yang menyalurkan produk itu adalah Hana Bank. Pada 2018, Jiwasraya mulai gagal bayar melakukan kewajibannya. Di sisi lain, aparat mengusut pidana korupsi di kasus itu. Akhirnya, 6 orang dituntut penjara seumur hidup atas kasus korupsi Rp 10 triliun lebih.

Berikut ini hukuman yang dijatuhkan PT Jakarta:

1. Mantan Dirut Jiwasraya, Hendrisman Rahimm, awalnya dihukum penjara seumur hidup lalu diubah menjadi 20 tahun penjara.
2. Mantan Direktur Keuangan Jiwasraya, Hary Prasetyo, awalnya dihukum penjara seumur hidup lalu diubah menjadi 20 tahun penjara.
3. Mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan AJS Syahmirwan awalnya dihukum penjara seumur hidup lalu diubah menjadi 18 tahun penjara.
4. Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto, awalnya dihukum penjara seumur hidup lalu diubah menjadi 18 tahun penjara.
5. Benny Tjokro tetap dihukum penjara seumur hidup.
6. Heru Hidayat tetap dihukum penjara seumur hidup.

(asp/haf)