Fenomena Donor Asi: Banyak Ibu Meninggal Akibat COVID-19

Annisa Rizky Fadhila - detikNews
Selasa, 03 Agu 2021 03:01 WIB
Bottles and frozen breast milk storage bags for new baby on wooden table
Ilustrasi Asi (Foto: Getty Images/iStockphoto/MonthiraYodtiwong)
Jakarta -

Donor asi kini menjadi tren di tengah pandemi COVID-19. Tren ini muncul lantaran sejak pandemi, banyak ibu yang meninggal karena terpapar COVID-19.

Kiasatina Amalia misalnya, ibu satu anak yang sudah mendonorkan asinya sejak Juni 2021 lalu. Saat ini, asinya sudah ia donorkan kepada enam bayi.

"Alhamdulillah sekarang ada enam bayi yang menerima donor asi," ujar Kiasatina saat detikcom hubungi, Senin (8/2/2021).

Kepada detikcom, Kiasatina bercerita awalnya dia sempat kesulitan mengeluarkan asi. Padahal, saat itu dia sudah mempunyai anak. Karena hendak memenuhi kebutuhan buah hati, dia berkonsultasi dengan dokter anak dan mengikuti berbagai metode. Sehingga, beberapa hari setelahnya asi Kiasatina cukup deras.

Awalnya, dia sempat bingung mendistribusikan asi yang dia punya. Namun, setelah mencari informasi dan melihat pengalaman beberapa orang, dia pun tertarik mendonorkan asinya.

Namun, Kiasatina mengaku sangat selektif dalam memilih bayi. Dia tak ingin asinya disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab.

Agar terkoordinir dengan baik, beberapa syarat yang dia ajukan di antaranya fotocopy KTP dan Kartu Keluarga, melampirkan foto bayi, muslim dan bayi berjenis kelamin perempuan.

"Ini buat archive saya juga kan. Karena buat tahu ini beneran anak dari bapak dan ibunya? Terus bayinya kayak gimana, makanya butuh foto. Terus terakhir usia bayinya di bawah enam bulan, karena kan dari WHO asi itu diberikan sebaiknya di bawah enam bulan," kata dia.

Di masa pandemi COVID-19 ini pula, dia meminimalisir kontak dengan keluarga bayi. Hal ini dia lakukan agar kedua belah pihak tetap sehat, tanpa terpapar COVID-19. Terlebih, saat ini Kiasatina masih mendonorkan asinya.

Untuk memenuhi stok, setiap harinya Kiasatina memompa asi empat jam sekali. Asi yang dia hasilkan berkisar 100 ml. Setelah asi dirasa cukup, dia menaruhnya ke dalam kulkas dan mengirimkan asi kepada keluarga bayi.

"Untuk pengirimannya itu pun pakai jasa kurir asi. Ini aku baru tahu dari penerima donor asi yang pertama. Jadi kurir ini dia kayak penyedia jasa transportasi online gitu, tapi dia punya ice cooler bag. Jadi memudahkan pengiriman juga, asi awet juga," jelasnya.

Selama mendonorkan asi, dia pun tidak pernah meminta imbalan dari penerima donor. Dia mengaku tulus memberikan asi kepada bayi yang membutuhkan.

"Kalau ditanya ada bayarannya atau enggak, sama sekali sih aku gak pernah minta bayaran. Tapi biasanya beberapa penerima donor akan kasih balasan makanan atau kirim makanan gitu ke aku. Tapi aku nggak pernah minta," ujarnya.

Dihubungi terpisah, F (29) ibu rumah tangga asal Bekasi sudah mendonorkan asinya sejak Mei 2021. Wanita yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan, dia kasihan dengan bayi yang sudah kehilangan orang tua.

"Sekarang itu banyak ibu yang udah meninggal karena kena COVID-19. Banyak juga kan yang melahirkan dalam keadaan COVID-19. Nah kan anaknya kasihan, makanya saya tertarik coba deh donorin asi ke bayi yang butuh. Karena kan mereka kasihan, butuh hidup juga," kata F.

Dalam kurun waktu empat bulan, dia mendapatkan banyak suka maupun duka dari donor asi. Di satu sisi, dia senang asinya bisa dirasakan oleh bayi yang membutuhkan. Namun di sisi lain, terkadang F merasa stres lantaran setiap harinya harus memenuhi target dan waktu tidurnya pun berkurang.

"Sekarang itu ada lima bayi yang menerima donor asi saya. Setiap 3-4 jam sekali saya juga harus memompa asi kan untuk ditaruh ke dalam kulkas. Ini dilakukan setiap hari. Terkadang ya tertekan, pernah asi saya sama sekali nggak keluar karena stress," ujarnya.

Untuk menyiasati hal itu, sebisa mungkin dia rileks dan tidak merasa terbebani. Dia juga selalu mengingat banyak bayi yang terlantar karena tidak mendapatkan asi dari ibu kandungnya. Dengan begitu F dapat tenang sekaligus memotivasi dirinya.

"Ya saya kalau udah tertekan gitu, pasti ujung-ujungnya ingat lagi sekarang banyak loh bayi yang masih butuh asi. Jangan sampai mereka kelaparan, makanya secara nggak langsung ini langsung memotivasi saya. Kalau saya stres, otomatis kan asinya juga berkurang. Kalau kayak gitu kasihan juga mereka (bayi), nanti mereka nggak bisa dapat asi kayak biasanya. Nah dari situ saya baru rileks, kalau capek ya istirahat, tidur," pungkasnya.

(dwia/dwia)