Polisi Selidiki Dugaan Mahasiswa Dikeroyok Satpam di Sentra Vaksinasi GBK

Yogi Ernes - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 17:31 WIB
Ilustrasi penganiayaan (dok detikcom)
Ilustrasi pengeroyokan (Dok. detikcom)
Jakarta -

Seorang mahasiswa bernama Zaelani (26) diduga menjadi korban pengeroyokan oleh petugas sekuriti sentra vaksinasi di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Korban mengalami luka di pelipis kiri imbas peristiwa itu.

"Jadi memang perasaan dia ada yang mukul satu. Jadi dipukul sekali pelipisnya langsung keluar darah dan keluar darah juga dari hidung. Yang lainnya ada yang melempar pakai handphone tapi dia sempat menghindar," kata pengacara Zaelani, Rezekinta Sofrizal Nasution, saat dihubungi detikcom, Senin (2/8/2021).

Kasus dugaan pengeroyokan itu terjadi pada Jumat (30/7). Saat itu korban mendatangi sentra vaksinasi di GBK untuk meminta sertifikat vaksin COVID-19.

Menurut Rezekinta, kliennya awalnya sempat menghubungi nomor hotline terkait informasi sertifikat vaksin COVID-19 itu. Namun petugas hotline itu mengarahkan Zaelani untuk meminta ke tempat dia mendapatkan vaksin.

"Akhirnya Jumat kemarin dia jalan minta dengan kawannya untuk ditemani karena dia vaksinnya di GBK. Lalu dia ke sana jam setengah 12 siang sampai di pintu 2 GBK menanyakan ke pos 2 kalau mau ngambil sertifikat vaksin di mana. Terus dibilang kalau untuk sekarang tidak boleh ada orang yang boleh masuk," terang Rezekinta.

Kliennya lalu diarahkan ke pos 5 GBK. Di sana Zaelani mendapatkan jawaban serupa. Namun, di pos tersebut kliennya justru mendapatkan ancaman verbal dari sekuriti di lokasi.

"Lalu sekuritinya dengan bahasa agak kesel ada omongan 'nanti gw pentung juga nih'. Ada ancaman seperti itu terlontar. Lalu menggunakan HT memanggil kawan sekuriti yang lain. Lalu datang 5 atau 6 orang sekuriti lain. Mereka ngobrol terus dibilang 'ini (Zaelani) dibilangin ngeyel'," ujar Rezekinta.

Rezekinta mengaku kliennya sempat terpancing emosi dan menantang petugas sekuriti di lokasi. Namun dia menyebut respons itu hanya secara verbal tanpa ada gesekan secara fisik.

"Si Zaelani yang seharusnya dapat penjelasan tapi kok melihat sekuriti diarahkan cukup banyak, sempat tersulut juga. 'Ya udah satu lawan satu deh', tapi itu cuman ucapan ya," ungkap Rezekinta.

Namun secara tidak terduga kliennya justru mendapatkan pemukulan dari pihak sekuriti di lokasi. Kliennya sempat mencoba lari namun berhasil dikejar oleh petugas sekuriti.

Zaelani lalu dibawa ke pos sekuriti setempat. Di sana dia kembali diintimidasi dan diminta menandatangani surat perdamaian.

"Mungkin karena posisi darah masih ngocor dan nggak lama kawannya yang dampingi dia akhirnya bilang 'ya udah bikin aja bikin'. Akhirnya bikin tanda tangan meterai dan disuruh pulang tanpa ada pemberian biaya pengobatan," ungkap Rezekinta.

Atas hal itu, Zaelani lalu membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Pusat pada Sabtu (31/7). Laporan itu terdaftar dengan nomor LP/B/997/VII/2021/SPKT/Polres Metro Jakpus/Polda Metro Jaya.

Dimintai konfirmasi terpisah, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Wisnu Wardhana membenarkan laporan kasus tersebut. Wisnu masih enggan bicara banyak.

Dia hanya mengatakan kasus itu masih dalam tahap penyelidikan pihaknya. Sejumlah saksi pun akan segera dimintai keterangan.

"Benar, Sabtu kemarin laporannya. Masih proses dan sudah ditindaklanjuti," kata Wisnu saat dimintai konfirmasi.

(ygs/zap)