Keluarga & Solidaritas Sosial Perlu Diperkuat buat Atasi COVID-19

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 13:13 WIB
Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menguatkan institusi keluarga dan solidaritas sosial di tengah masih tingginya kasus COVID-19. Terlebih karena jumlah warga yang harus isolasi mandiri masih tinggi. Sementara ketersediaan tempat di rumah sakit dan jumlah korban dari anak-anak Indonesia pernah menjadi yang tertinggi di dunia.

Ia mengaku prihatin banyak warga yang akhirnya meninggal ketika isolasi mandiri akibat tidak tertangani dengan baik. Bahkan anak-anak pun banyak yang turut menjadi korban, baik sebagai korban jiwa langsung maupun korban karena kedua orang tuanya meninggal akibat COVID-19.

Anggota DPR-RI Dapil DKI II ini mengungkapkan bahwa ia telah berulang kali memberikan penyuluhan bagi warga soal hidup sehat dan mengatasi COVID-19. Juga memberikan berbagai paket bantuan sembako, obat-obatan, alat kesehatan, tabung oksigen, bantuan tunai hingga ambulans untuk layanan kesehatan gratis bagi warga terpapar COVID-19.

Namun itu semua tidak bisa menggantikan peran keluarga apalagi peran pemerintah yang diwajibkan oleh konstitusi dan memiliki kuasa struktural dan anggaran hingga ribuan triliun rupiah.

"Karena itu perlu peran lanjutan keluarga, serta kehadiran pemerintah untuk meningkatkan kapasitas penanganan COVID-19, antara lain dengan meningkatkan testing, meningkatkan kapasitas pelayanan kesehatan baik di RS maupun di luar RS, membayarkan tagihan rumah sakit dan insentif tenaga kesehatans serta memberdayakan seluruh unsur pemerintahan hingga ke satuan terkecil di tingkat RT dan RW," ujar HNW dalam keterangannya, Senin (2/8/2021).

Hal itu disampaikannya usai bertemu dengan LSM RKI (Rumah Keluarga Indonesia) dalam acara "Menjadi Guru Di Rumah, Di Era Pandemi Covid-19, Siapa Takut" yang bekerja sama dengan DPD PKS Jakarta Pusat, Minggu (1/8/). Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini menjelaskan berdasarkan data dari Lapor COVID-19, hingga 30 Juli 2021 setidaknya sudah ada 2.832 warga yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri.

Dari jumlah tersebut di 2.500 kasus di antaranya terjadi selama bulan Juli. Tingginya angka kematian isoman disebabkan oleh sebagian pasien bergejala berat namun tidak mendapatkan pelayanan kesehatan akibat di rumah sakit terjadi overload, kelangkaan obat-obatan dan oksigen. Lalu di sebagian tempat tidak mendapatkan penanganan yang baik dan benar oleh Keluarga, maupun kurangnya dukungan positif dari masyarakat sekitar tempat tinggal warga yang isoman.

Menurut HNW, yang lebih mengkhawatirkan, paparan COVID-19 di Indonesia tidak hanya kepada orang dewasa, namun juga kepada anak-anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan kasus kematian anak Indonesia akibat COVID-19 pada bulan Juni sempat mencapai persentase tertinggi di dunia.

"Diperlukan peran aktif orang tua untuk memantau kesehatan anaknya, apabila bergejala COVID-19 maka harus segera testing, dan menghubungi puskesmas atau dokter. Serta membekali setiap keluarga dengan pengetahuan dan alat kesehatan yang memadai untuk atasi COVID-19 yang bisa menimpa anggota keluarga termasuk anak-anak," ujarnya.

Menurut HNW, orang tua juga penting untuk mengembalikan fitrahnya dengan menjadikan dirinya sebagai guru bagi anak-anaknya yang karena COVID-19 maka diberlakukanlah Pendidikan Jarak Jauh. Orang tua bisa efektif jadi guru dengan mengajarkan keteladanan soal karakter yang baik, saling peduli dan menyayangi.

"Pemerintah juga perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas testing untuk anak-anak, karena menurut IDAI tingginya kematian anak karena COVID-19 merupakan akibat dari rendah dan lambatnya testing," ujarnya.

Meski begitu, HNW optimis bila pemerintah melakukan kewajibannya secara maksimal, dan keluarga juga optimal menghadirkan perannya, maka tekad untuk atasi COVID-19 masih terbuka lebar. Sebab di antara pemerintah dan keluarga ada solidaritas Sosial ketika masyarakat saling membantu satu sama lain yang masih terus berlangsung.

Berdasarkan laporan Charity Aid Foundation, World Giving Index Indonesia tahun 2021 berada di peringkat pertama di dunia dengan skor 69%, naik dari skor 59% pada Indeks terakhir yang dikeluarkan tahun 2018. Penelitian CAF juga menemukan bahwa 8 dari 10 orang Indonesia menyumbangkan uang pada tahun ini, sementara tingkat kerelawanan Indonesia tiga kali lipat lebih besar dari rata-rata dunia.

Menurutnya, hal ini menunjukkan Indonesia memiliki modal sosial besar yang dibutuhkan untuk bersama-sama mengatasi COVID-19 dan keluar dari dampak buruk COVID-19. Modal sosial berupa solidaritas ini perlu semakin dikuatkan melalui terlaksananya kewajiban serta tanggung jawab maksimal pemerintah, arahan keagamaan, peran kemasyarakatan, dan kokohnya peran keluarga dan fungsi orang tua sebagai pengayom, guru dan teladan kepada anak-anaknya.

Dengan begitu penanganan COVID-19 dapat dilakukan lebih efektif. Warga tidak cemas meski PPKM terus diperpanjangnya dengan berbagai istilahnya yang berubah-ubah. Dengan begitu warga terdampak COVID-19 bisa mendapat pertolongan dari pemerintah dan bantuan dari sesama warga, atau teratasi di internal keluarga, sehingga jumlah korban maupun yang meninggal akibat COVID-19 termasuk di kalangan anak-anak bisa diminimalisir.

"Dampak negatif dari pandemi COVID-19 bisa diatasi. Agar Indonesia, dengan penanganan COVID-19-nya, tidak lagi ditakuti warga dunia yang menutup pintu kedatangan dari Indonesia, maupun yang menarik pulang warga negara mereka yang berada di Indonesia," pungkasnya.

(mul/ega)