Binmas Noken, Cara Polisi Mencintai Papua

Sudrajat - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 10:33 WIB
Polri dan Binmas Noken di Papua
Kristin Samah dan Eko R Sudarto di tengah anak-anak Papua. Foto: Dok. Binmas Noken
Jakarta -

Babi, bagi orang Papua tak cuma bernilai ekonomi tapi juga sosial budaya. Karena itu tak aneh bila melihat para ibu di sana menggendong babi ke dalam noken, sedangkan anaknya yang masih kecil dibiarkan berjalan seiring. Kalau pun dibuatkan kandang, letaknya biasa berdampingan dengan honai keluarga. Tak jarang malah babi-babi peliharaan mereka dibiarkan tidur bersama di dalam honai. Di siang hari dibiarkan bebas mencari makan sendiri. Menjadi sangat rentan bila babi-babi itu makan dari tempat sampah.

Sejak beberapa tahun lalu, para polisi yang bertugas di Papua mencoba memberi pemahaman kepada warga di sana. Para polisi membantu membangun kandang yang sehat sekaligus melakukan pendampingan. Mereka diajari menyediakan pakan, memandikan, dan merawatnya agar berkembang biak dengan baik.

Tak cuma babi. Para polisi di sana juga mengajarkan kembali beternak lebah, menanam sayuran. Kepada anak-anak, mereka mengajarkan membaca, menulis, menyanyi, dan mendongeng.

Sebagai aparat penegak hukum, bhayangkara dan bhayangkari yang bertugas di tanah Papua tak cukup hanya menegakkan aturan seperti tertuang dalam KUHP. Kearifan dan empati dalam memandang orang Papua secara utuh mutlak dimiliki sebagai keterampilan pribadi. Mereka harus bisa menjadi guru dan mengajarkan materi apa saja bagi anak-anak Papua yang belum tersentuh pendidikan. Juga harus cakap bertani, beternak, dan keterampilan lainnya untuk ditularkan kepada masyarakat Papua agar mereka mandiri secara ekonomi.

Gambaran aktivitas semacam itu tertuang dalam buku Jejak Cinta di Papua. Buku yang terbit Juni lalu ini ditulis oleh Kristin Samah dan Brigjen Eko Rudi Sudarto. Keduanya memotret sisi lain dari pola hubungan polisi dan masyarakat Papua. Cerita yang sangat jarang menjadi perhatian media massa kita. Juga luput atau memang tak menjadi fokus perhatian para aktivis HAM.

Bagi para aktivis HAM, cerita soal polisi dan Papua niscaya yang terlontar adalah melulu kekerasan, diskriminasi, dan keterbelakangan. Kristin, penulis sejumlah buku dan mantan wartawan yang gemar berbusana kebaya ini pun pernah memotretnya lewat buku Duka dari Nduga yang dirilis Oktober 2019.

Noken merupakan sebutan untuk tas tradisional orang Papua. Tas itu juga simbol martabat dan peradaban serta kehidupan. Karena itu sederhananya Binmas Noken memaknai sebagai operasi kepolisian untuk mengangkat harkat dan martabat kehidupan masyarakat dan rakyat Papua.Tugas utama Binmas Noken Polri adalah menjalankan misi atau operasi kepolisian yang bersifat kemanusiaan atau soft approach policing khususnya di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

Menurut Eko Rudi Sudarto, konsep Binmas Noken dirintis oleh Jenderal Muharsipin pada 1993. Esensinya kala itu adalah membangun interaksi petugas Polri yang memiliki kemampuan dengan memberikan contoh. Menjadi teladan dan memberi bantuan dalam upaya pemberdayaan masyarakat Papua. Bentuknya bisa pertukangan, pertanian, perkebunan, perikanan, dan lainnya. Muharsipin kemudian membangun suatu wilayah pelatiah keterampilan di Arso (Polres Keerom). Apa yang dilakukan Muharsipin kala itu masih disebut dengan Binmas Pionir.

Para Kapolda berikutnya ikut mengembangkan apa yang dirintisnya itu. Paulus Waterpaw, kini Kepala Baintelkam Mabes Polri, antara lain menginisiasi Polisi Pi Ajar. Dia menerjunkan polisi di satuan polres-polres untuk pergi mengajar anak-anak yang belum tersentuh pendidikan formal. Umumnya anak-anak di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

Ketika Tito Karnavian menjadi Kapolri di awal 2018, dia secara khusus membentuk Operasi Nemangkawi dalam penegakkan yang mengadopsi pendekatan Binmas Noken. Penegakkan hukum terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) lebih mengedepankan pendekatan humanis.

Polisi anggota Binmas Noken berinteraksi dengan anak-anak di PapuaPolisi anggota Binmas Noken berinteraksi dengan anak-anak di Papua Foto: Dok. Binmas Noken

Listyo Sigit Prabowo, melalui program Presisi, ternyata juga menaruh cinta dan kepedulian yang sama terhadap Papua. Karena itu konsep dan program Binmas Noken terus dilanjutkan dengan panduan yang lebih tegas, Inpres Nomor 9 Tahun 2020.

Tentu program ini harus dilanjutkan dengan dukungan sumber daya dan dana yang memadai. Untuk itu kerja sama lintas instansi pemerintah di pusat maupun daerah, para tokoh adat, hingga kalangan swasta dan LSM perlu disinergikan dengan cermat. Sudikah melakukannya demi dan atas nama cinta untuk Papua? Semoga...

Lihat juga video 'LBH Papua Ungkap Marak Polisi Langgar HAM saat Bubarkan Aksi Sejak 2019':

[Gambas:Video 20detik]



(jat/jat)