Buku Batik Tulis Lasem Diluncurkan, Ini Harapan Sandiaga Uno

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 09:56 WIB
Peluncuran buku Memadukan Keberagaman; Dokumentasi Motif Modifikasi Batik Tulis Lasem.
Foto: kemenparekraf
Jakarta -

Pemerintah Kabupaten Rembang, Komunitas Batik Lasem, BEDO (Business & Export Development Organization) bersama Terasmitra bekerja sama dengan Sampoerna Untuk Indonesia meluncurkan buku Memadukan Keberagaman; Dokumentasi Motif Modifikasi Batik Tulis Lasem.

Peluncuran secara virtual pada Jumat (30/7) lalu ini turut disaksikan Menteri Pariwisata & Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahudin Uno dan jajarannya, Ketua Dekranasda Jawa Tengah Siti Atikoh Ganjar Pranowo, Dinas Koperasi & UKM Provinsi Jawa Tengah, Dinas Koperasi & UKM Provinsi DIY, Pemerintah Kabupaten Rembang, sosiolog, budayawan dan Komunitas Batik Lasem.

"Program ini berjalan seiring dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait Pemulihan Ekonomi Nasional melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah dan BAPPEDA Kabupaten Rembang, yaitu pengembangan Batik Lasem," ujar Sandi dalam keterangan tertulis, Senin (2/8/2021).

"Program yang berlangsung selama enam bulan ini bertujuan untuk melakukan riset dan mendokumentasikan batik modifikasi Lasem dengan melibatkan dinas, budayawan dan komunitas batik sampai terwujud buku dokumentasi yang akan didistribusikan ke perpustakaan nasional dan daerah serta dalam bentuk digital yang mudah diakses," jelasnya.

Disebutkan, pendokumentasian ini juga bagian dari pelaksanaan amanat Peraturan Bupati Rembang Nomor 29 Tahun 2017 tentang Pelestarian Batik Tulis Lasem yang dimaksudkan untuk melindungi, melestarikan, dan mengembangkan batik tulis Lasem sebagai karya cipta dan produk kebudayaan masyarakat daerah, serta sebagai penggerak ekonomi masyarakat di Daerah.

Sandi menyebut salah satu upaya untuk melakukan perlindungan dan pelestarian tersebut adalah dengan melakukan inventarisasi motif batik tulis Lasem yang berkembang sekarang ini. Ada banyak harapan yang digantungkan dengan pendokumentasian motif batik tulis Lasem ini.

"Yang pertama, tentu saja, melindungi dan melestarikan motif-motif modifikasi batik tulis Lasem. Yang dimaksudkan melindungi di atas adalah untuk menjaga agar motif-motif modifikasi sebagai kekayaan intelektual seniman perajin, daerah dan nasional ini tidak diklaim atau digunakan secara sembarangan oleh pihak-pihak di luar Lasem bahkan di luar Indonesia," ujarnya.

"Dengan pendokumentasian, akan terdapat bukti tercatat tentang keberadaan motif-motif tersebut. Sedangkan yang dimaksudkan dengan pelestarian, keberadaan motif-motif modifikasi tersebut tetap dapat dijejak meskipun kain batik telah dikoleksi perseorangan, rusak, maupun hilang. Dengan keberadaan jejak tersebut, proses untuk melakukan penghadiran (reproduksi) kembali motif tersebut dapat dilakukan," jelasnya.

Lalu harapan kedua, pendokumentasian ini akan bermanfaat bagi para ahli, akademisi, pecinta, maupun masyarakat umum termasuk generasi muda dan pelajar untuk dapat menimba pengetahuan atas khazanah seni dan kebudayaan tekstil Indonesia, khususnya batik tulis Lasem. Pendistribusian buku-buku hasil dokumentasi yang akan difokuskan ke perpustakaan-perpustakaan nasional dan daerah ini sangat terkait erat dengan harapan kedua tersebut di atas.

Sebagai informasi, program dokumentasi ini adalah bagian dari program Collaboration XZ yang diselenggarakan PT HM Sampoerna bekerja sama dengan Yayasan BEDO (Business & Export Development Organization).

(mul/ega)