Round-Up

Hoax Corona Konspirasi Masih Ganggu Pemerintah Atasi Pandemi

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 31 Jul 2021 20:36 WIB
Close up of a computer keyboard with word of hoax on the red button
Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Jakarta -

Hoax terkait Corona dianggap pemerintah sebagai salah satu gangguan mengatasi pandemi. Salah satu hoax yang masih beredar ialah Corona merupakan konspirasi.

Hal itu disampaikan oleh Menko Polhukam Mahfud Md saat silaturahmi virtual dengan alim ulama, pengasuh ponpes, pimpinan ormas lintas agama, dan forkopimda se-Jawa Tengah, Sabtu (31/7/2021).

"Ada isu-isu yang kadang kala mengganggu pemerintah, pertama, virus Corona itu bohong, virus Corona itu konspirasi. Nah, masih ada yang bilang begitu. Ketika kita tanya konspirasinya siapa? Wah, itu konspirasi orang kafir untuk menghancurkan orang Islam, ada yang bilang begitu," ujar Mahfud.

Padahal, katanya, virus Corona lebih banyak terjadi di negara-negara yang bukan mayoritas penduduknya beragama Islam. Dia mencontohkan sejumlah negara yang mengalami pandemi Corona.

"Nah, ternyata Saudara, yang kena itu justru orang kafirnya sendiri lebih banyak, orang yang tidak Islam itu lebih banyak, India ya itu orang Hindu, China itu komunis, Amerika, Jerman, dan sebagainya, Jepang, Australia itu tidak Islam," ujarnya.

Mahfud juga menyebut ada yang menganggap COVID-19 sebagai konspirasi pedagang obat. Padahal, katanya, malah banyak pedagang obat yang positif COVID-19.

"Bahwa konspirasi pedagang (obat), ya seumpama itu benar, wong pedagang-pedagangnya sendiri juga kena gitu ya dan kalau obat itu ada, penyakit itu ada, karena permainan dagang, kan harus kita hadapi juga karena itu berbahaya secara medis," ucap Mahfud.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini mengatakan banyak orang yang menjadi korban hoax COVID-19. Dia mencontohkan ada orang yang mendatangi pasien COVID ke rumah sakit, lalu menghirup napas pasien tersebut gegara termakan hoax.

"Bahkan juga ada orang datang ke rumah sakit, 'bohong tuh, mana, saya mau ketemu sama yang kena virus, memberi tahu saya, nantang saya, mau hirup ininya'. Ternyata akhirnya jadi korban juga," ucapnya.

Hoax Seputar Vaksin Corona

Hoax terkait vaksinasi Corona juga banyak bertebaran. Dia mengatakan banyak yang menyebut vaksin Corona dapat menyebabkan kematian.

"Hoax, ada orang yang kalau divaksin orang akan meninggal dalam waktu 2 tahun. Orang meneliti vaksin itu lama sekali uji klinisnya 1, 2, 3 itu agar tidak membahayakan orang dalam waktu tertentu, agar aman. Itu semua yang kita hadapi sejak awal perjalanan COVID. Sekarang kesadaran sudah mulai muncul," kata Mahfud.

Mahfud menjamin stok vaksin Corona di Indonesia saat ini masih cukup. Namun, katanya, jumlah vaksinator untuk menyuntikkan vaksin yang kurang.

"Sampai hari ini vaksin kita cukup. Yang tidak cukup adalah vaksinatornya. Kenapa? Karena tiba-tiba muncul kesadaran orang divaksin, lalu banyak yang antre vaksin, lalu vaksinator yang menyuntikkan itu nggak cukup," ujar Mahfud.

(haf/haf)