Jual Hasil Tes PCR Palsu Rp 1,5 Juta, ASN di Sulut Ditangkap

Trisno Mais - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 19:31 WIB
Garis polisi, police line. Rachman Haryanto /ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi Garis Polisi (Rachman Haryanto/detikcom)
Manado -

Seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) Sulawesi Utara (Sulut) berinisial HES (41) ditangkap polisi karena menyediakan jasa hasil swab PCR COVID-19 palsu. Polisi menyebut pelaku sudah lima kali membuat dokumen palsu.

Awal mula kasus ini terbongkar di Pelabuhan Bitung pada Sabtu (24/7/2021) malam. "Bermula dari laporan Petugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bitung tentang adanya penggunaan surat hasil swab PCR palsu," ujar Kabid Humas Polda Sulut Kombes Jules Abraham Abast, ketika dimintai konfirmasi detikcom, Kamis (29/7).

Pada Minggu (25/7), tim Satreskrim Polres Bitung melakukan penyelidikan, dan mendapat informasi bahwa salah satu pengguna hasil swab PCR palsu berdomisili di Amurang Minahasa Selatan.

"Tim Satreskrim kemudian ke Amurang dan menginterogasi pengguna hasil swab PCR palsu tersebut. Dan diperoleh info bahwa perantara pembuatan hasil swab PCR palsu beralamat di Mapanget Manado," pungkasnya.

Polisi pun menangkap pelaku dan mengamankan sejumlah barang bukti. Salah satunya printer yang digunakan pelaku untuk mencetak hasil swab PCR palsu.

"Tim lalu menuju rumah pelaku dan mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain satu buah laptop, satu buah printer, satu buah flash disk, dan satu hasil swab PCR palsu, serta satu asli," jelasnya.

Setelah diinterogasi lebih dalam, pelaku mengaku sudahlima kali beroperasi. Tarif yang ditetapkan untuk 1 dokumen hasil swab PCR palsu bervariasi.

"Pelaku memasang tarif setiap pembuatan hasil swab PCR palsu ini dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 800 ribu hingga Rp 1,5 juta. Dan pelaku mengaku telah membuat hasil swab PCR palsu ini kurang lebih lima kali," kata Jules.

Untuk meyakinkan pemesan, pelaku juga meminta e-KTP, hasil swab antigen serta surat keterangan perjalanan dari desa/kelurahan. Diketahui, pelaku menunggu siapapun yang memerlukan 'jasanya'.

Pelaku telah memiliki format file dokumen hasil swab PCR palsu yang tersimpan di laptop. "Jika ada yang memesan, pelaku lalu mengubah identitas yang ada dalam format tersebut dengan identitas pemesan atau pengguna. Termasuk mengubah tanggal sesuai penggunaannya," jelasnya.

(isa/isa)