Pinjam Rp 1 Juta Berbunga Jadi Rp 15 Juta, Bisakah Saya Pidanakan Pinjol?

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 29 Jul 2021 09:12 WIB
Pinjam Online Abal-abal
Foto: Pinjam Online Abal-abal (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Aplikasi pinjaman online (pinjol) penuh dengan jebakan beranak pinak. Bahkan acapkali mereka menagih dengan cara meneror, mengintimidasi hingga melakukan pencemaran nama baik. Salah satunya dialami pembaca detik's Advocate.

Penuturan ini disampaikan oleh pembaca detik's Advocate, LG di Jakarta. Berikut kisahnya yang dikirim lewat surat elektronik ke detik's Advocate:

Dengan Hormat
Dengan email ini saya, LG

Dengan ini ingin menceritakan kejadian mengenai penipuan dan pemerasan pinjaman online illegal aplikasi DU. Adapun kronologi kejadiannya sebagai berikut:

1. Di tanggal 19 Juni 2021 saya melakukan pendaftaran dan pengajuan di aplikasi DU. Saya melakukan pengajuan sebesar Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) dan dicairkan di hari itu juga sebesar Rp. 624.000,- (Enam Ratus Dua Puluh Empat Ribu Rupiah) dan jatuh tempo di tanggal 25 Juni 2021 dengan tagihan sebesar Rp 1.200.000,- (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah).

2. Dan di tanggal 25 Juni 2021 saya melunasi tagihan tersebut melalui gerai mini market sebesar Rp 1.200.000,-

3. Dan di tanggal 28 Juni 2021 saya cek di aplikasi DU terdapat tagihan dengan pengajuan Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah). Padahal SAYA TIDAK PERNAH MELAKUKAN PENGAJUAN TERSEBUT.

4. Di tanggal 28 Juni 2021 saya cek di rekening Mandiri saya telah cair sebesar Rp 728.000,- (Tujuh Ratus Dua Puluh Delapan Ribu Rupiah). Saya cek di aplikasi DU, tagihan tersebut jatuh tempo di tanggal 4 Juli 2021. Dan saya coba konfirmasi via telepon ke nomor yang tertera di aplikasi yaitu 0838 40182233 tapi tidak aktif.

Akhirnya saya coba konfirmasi melalui email yang terlampir di aplikasi di tanggal 28 Juni 2021 pukul 09.42 WIB dan mendapat jawaban dari email tersebut di tanggal yang sama pada pukul 10.48 WIB dengan isi email:

Menanggapi info dan keluhannya saat ini, Untuk dana yang tela dicairkan bias dibatalkan dengan pengembalian/refund dana sesuai nominal yang diterima.
BANK : BJB
Nama :DU
No. REK :xxx
Mohon lampirkan bukti refund berhasil

5. Saya akhirnya mentransfer uang sebesar Rp 728.000,- (Tujuh Ratus Dua Puluh Delapan Ribu Rupiah) sesuai dengan dana yang ditransfer, dan saya kirim ke nomor rekening yang telah dikirim.

6. Dan di tanggal 4 Juli 2021, saya mendapatkan chat via Whatsapp dari nomor yang terlampir di aplikasi DU yang isinya menagih pembayaran atas tagihan sebesar Rp 1.400.000,- (Satu Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) di aplikasi.

Saya pun menjawab dengan memberitahukan bahwa dana yang cair tersebut telah saya refund. Saya juga melampirkan screenshot email dari pihak DU dan bukti transfer refund Dana.

7. Di tanggal 20 Juli 2021 ini tagihan saya menjadi Rp 15.512.000,- (Lima Belas Juta Lima Ratus Dua Belas Ribu Rupiah).

8. Dan dari nomor 0812 16378750 mengakui adanya karyawan DU yang melakukan fraund yaitu berupa mengumpulkan dana dari pelanggan.

9. Seharusnya dari pihak DU tidak berhak lagi melakukan penagihan terhadap saya, dikarenakan saya sudah melakukan refund terhadap dana yang cair.

10. Saya sudah melaporkan hal ini ke pihak Bareskrim Polda Metro Jaya, dari pihak kepolisian melemparkan hal ini untuk melaporkan ke OJK.

11. Saya sudah melaporkan ke OJK melalui WhatsApp OJK, solusinya hanya dilaporkan ke pihak Satgas Waspada Investasi. Dan saya juga kirim email ke satgas Waspada Investasi.

12. Sampai saat ini saya masih ditagih untuk melakukan pembayaran termasuk denda. Padahal saya sudah melakukan refund dan tidak melakukan pengajuan dan tidak menggunakan pinjaman tersebut.

Yang saya tanyakan apakah saya kuat bukti terhadap masalah ini? Apakah saya dapat mengajukan ke pihak kepolisian atas hal ini.

Saya lampirkan bukti screenshot dari keterangan saya diatas. Mohon bantuannya untuk penjelasan dan pencerahannya.

Jakarta, 22 Juli 2021
Hormat saya,

LG

Untuk menjawab hal di atas, kami meminta pendaoat hukum dari mahasiswa yang juga Paralegal BPBH Fakultas Hukum Universitas Jember, Yudi Yasmin Wijaya. Berikut jawabannya:

Faktor keterbatasan waktu menciptakan keinginan seseorang untuk mendapatkan dana secara cepat dengan cara meminjam uang. Namun sejalan dengan perkembangan zaman, peminjaman uang berkembang dengan penggunaan media online sebagai media bisnis debitur. Kondisi ini mengakibatkan adanya disrupsi dalam penerapan hukum ketika terjadi suatu pelanggaran yang bersifat pidana yang dilakukan oleh pihak kreditur maupun debitur. Pada sisi debitur, penyalahgunaan pemanfaatan teknologi dapat berkaitan dengan manipulasi informasi, serta penyalahgunaan data pribadi seseorang demi keuntungan pribadi dengan memeras maupun menipu.

Kasus ini dialami oleh seorang klien a.n. LG yang merupakan seorang peminjam dana online lewat aplikasi 'D.U'. Pada tanggal 19 Juni 2021 klien melakukan pendaftaran dan pengajuan di aplikasi D.U. Ia melakukan pengajuan sebesar Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) dan dicairkan di hari itu juga sebesar Rp. 624.000,- (Enam Ratus Dua Puluh Empat Ribu Rupiah) dan jatuh tempo di tanggal 25 Juni 2021 dengan tagihan sebesar Rp 1.200.000,- (Satu Juta Dua Ratus Ribu Rupiah).

Pada tanggal 25 Juni 2021 klien melunasi tagihan tersebut melalui gerai minimarket sebesar Rp 1.200.000,-. Masalah terjadi ketika di tanggal 28 Juni 2021 ketika klien mengecek aplikasi D.U terdapat tagihan dengan pengajuan Rp 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) padahal ia tidak pernah melakukan pengajuan hutang. Pada tanggal 28 Juni 2021 di rekening Mandiri klien telah cair sebesar Rp 728.000,- (Tujuh Ratus Dua Puluh Delapan Ribu Rupiah). Ketika mengecek kembali di aplikasi D.U, tagihan tersebut jatuh tempo di tanggal 4 Juli 2021.

Terkait dengan hal ini, klien coba konfirmasi via telepon ke nomor yang tertera di aplikasi tapi tidak aktif. Akhirnya klien mencoba konfirmasi melalui email yang terlampir di aplikasi di tanggal 28 Juni 2021 pukul 09.42 WIB dan mendapat jawaban dari email tersebut di tanggal yang sama pada pukul 10.48 WIB dengan isi email berupa solusi pembatalan dengan cara melakukan refund ke rekening atas nama D.U dan mengirimkan bukti refund. Atas pemberitahuan itu, klien akhirnya mentransfer uang sebesar Rp 728.000,- (Tujuh Ratus Dua Puluh Delapan Ribu Rupiah) sesuai dengan dana yang ditransfer, dan dikirimkan ke nomor rekening yang tertera pada e-mail tersebut. Meskipun demikian, ternyata pada tanggal 4 Juli 2021, klien tetap mendapatkan chat via Whatsapp dari nomor yang sama terlampir di aplikasi D.U, dan isinya menagih pembayaran atas tagihan sebesar Rp 1.400.000,- (Satu Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) di aplikasi. Klien dalam menanggapi hal ini pun telah menjawab bahwa dana yang cair tersebut telah direfund dengan melampirkan screenshot email dari pihak D.U dan bukti transfer refund.

Pihak D.U tetap bersikeras yang ditunjukkan pada tanggal 20 Juli 2021 bahwa tagihan klien telah membengkak menjadi Rp 15.512.000,- (Lima Belas Juta Lima Ratus Dua Belas Ribu Rupiah). Meskipun demikian, nomor yang sama mengakui adanya karyawan D.U yang melakukan fraud dengan berusaha mengumpulkan dana dari pelanggan. Dalam keadaan yang demikian, klien merasa bahwa seharusnya pihak D.U tidak berhak lagi melakukan penagihan.

Klien dalam menanggapi permasalahan ini sudah melapor pada berbagai pihak seperti OJK maupun Waspada Investasi. Namun, sampai saat ini klien masih ditagih untuk melakukan pembayaran termasuk denda. Padahal nyatanya klien sudah melakukan refund dan tidak melakukan pengajuan serta tidak menggunakan pinjaman tersebut.

Dengan merujuk pada kronologi dan fakta kejadian serta bahan pendukung yang dinyatakan oleh klien, maka dapat diberikan pendapat hukum terkait kejadian yang menimpa klien, yaitu bahwa:

Baca selengkapnya di halaman selanjutnya.

Tonton juga Video: Heboh Foto Selfie KTP Dijual, Diduga Ulah Pinjol Ilegal

[Gambas:Video 20detik]