Polisi Mulai Selidiki Pasutri Korban Satpol PP Gowa Bohong soal Kehamilan

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 26 Jul 2021 10:07 WIB
Wanita Dipukul Satpol PP Gowa, Amriana sedang duduk
Wanita Dipukul Satpol PP Gowa, Amriana, sedang duduk (Hermawan/detikcom)
Gowa -

Polres Gowa mulai menyelidiki kebohongan kehamilan yang diungkapkan pasangan suami istri (pasutri) Ivan (24) dan Amriana (34) saat dipukul oknum Satpol PP Gowa Mardani Hamdan. Dari laporan yang diterima, polisi mulai melakukan penyelidikan dengan mengecek rekam medis Amriana yang masuk rumah sakit usai dipukul.

"Kita sedang koordinasi dengan pihak rumah sakit, pihak medis ya," ucap Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Boby Rachman kepada detikcom, Senin (26/7/2021).

Boby mengatakan data rekam medis soal kehamilan terlapor diperlukan untuk tahap awal penyelidikan. Dari data rekam medis tersebut, dapat diketahui benar-tidaknya kehamilan terlapor.

"Karena terkait laporan balik itu, terkait kehamilan, kita dari penyidik melakukan (koordinasi soal) hasil rekam medis apakah hamilnya benar-benar ada atau tidak," ucap Boby.

Menurut Boby, pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit di mana perempuan Amriana pernah dirawat, baik rumah sakit di Gowa maupun di rumah sakit di Makassar.

"Ya RS (rumah sakit) yang pernah dia periksakan, nanti penyidik koordinasi," katanya.

Selanjutnya, penyidik juga akan meminta keterangan dari pihak terlapor.

"Ya nanti diagendakan karena minggu lalu kan laporannya, ya nanti kita agendakan dan kita juga bisa minta nanti rekam medisnya (ke terlapor)," katanya.

Pasutri Korban Satpol PP Gowa Dilaporkan soal Kebohongan Hamil

Ivan dan Amriana dilaporkan balik ke Polres Gowa pada Kamis (22/7) lalu. Adalah Ormas Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulsel yang melaporkan pasutri itu lantaran dianggap berbohong soal kehamilan.

"Kami dari Brigade Muslim Indonesia (pada) Kamis, 22 Juli 2021, membuat laporan resmi ke Polres Gowa mengenai dugaan penyebaran informasi bohong melalui media sosial secara live dan media online yang diduga dilakukan oleh pasangan pasutri (Ivan dan Amriana), pemilik kafe di Desa Panciro, saat terjadi insiden penganiayaan oleh oknum Satpol PP. Laporan ini didasari oleh beberapa temuan kami," ujar Ketua BMI Sulsel Muhammad Zulkifli S kepada detikcom, Jumat (23/7).

Zulkifli lalu mengungkap beberapa temuannya soal dugaan penyebaran berita bohong yang dilakukan Ivan dan Amriana. BMI melihat rekaman video siaran langsung saat pemukulan sengaja diviralkan oleh Ivan dan Amriana, dan dalam video itu Ivan selaku suami juga membuat narasi bahwa Amriana yang tengah dipukul dalam kondisi hamil.

"Dalam video itu ada penyampaian ke masyarakat bahwa kondisi Ibu Amriana berada dalam keadaan hamil dan mengalami pecah ketuban. Kondisi ini membuat masyarakat semakin terprovokasi sehingga muncullah bully-an, munculnya video yang mengajak duel, munculnya meme yang sifatnya kekerasan secara psikis dan banyak lagi," kata Zulkifli.

Selain itu, Zulkifli menyebut BMI sudah mendapat kabar soal hasil tes medis yang menunjukkan Amriana negatif hamil, tapi Amriana tetap berkeras mengaku hamil dan menegaskan kehamilannya tidak bisa dibuktikan dengan tes medis.

"Tetapi beberapa hari kemudian suami Ibu Amriana melalui sebuah siaran live (Facebook) lewat akun Ivan Van Haoten secara tegas mengatakan bahwa hasil USG Ibu Amriana menunjukkan kandungan dalam keadaan kosong. Kondisi ini kemudian diperkuat oleh jumpa pers pihak pengacara dan pasutri tersebut dan juga menyatakan hasil USG kosong," ungkap Zulkifli.

(hmw/nvl)