Round-Up

Menanti Hasil Penyelidikan Polisi soal 'Kartel Kremasi'

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 24 Jul 2021 06:39 WIB
A COVID-19 victim is cremated in Vasai, outskirts of Mumbai, India, Thursday, April 15, 2021. India reported more than 200,000 new coronavirus cases Thursday, skyrocketing past 14 million overall as an intensifying outbreak puts a grim weight on its fragile health care system.
Foto: Ilustrasi kremasi (AP Photo)
Jakarta -

Polres Metro Jakarta Barat masih menyelidiki terkait viral 'diperas kartel kremasi' dalam kremasi jenazah COVID-19. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan polisi untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo mengatakan saat ini pihaknya masih terus melakukan pemanggilan saksi-saksi dalam upaya penyelidikan itu. Pemeriksaan saksi-saksi ini bertujuan untuk menggali apakah ada tindak pidana di dalamnya.

"Sampai saat ini kami telah memanggil sebanyak 7 orang saksi terkait kasus dugaan praktik 'kartel kremasi' yang sempat viral di Jakarta Barat," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo dalam keterangannya, Jumat (23/7/2021).

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono mengatakan para saksi ini dari pihak rumah duka, krematorium dan juga orang yang menyebarkan berita viral.

"Dua orang adalah dari pihak pengelola Rumah Duka Abadi, satu orang dari pihak yang membuat berita viral kemudian satu orang pihak pengelola krematorium di Karawang dan yang lain adalah saksi-saksi terkait yang sudah kita periksa," jelas Joko.


Staf Krematorium Diperiksa

Pada Jumat (23/7) kemarin, polisi memeriksa 3 orang saksi dari Karawang, Jawa Barat. Salah satu saksi adalah staf krematorium Yayasan Mulia.

"Iya memang ada tiga orang yang diperiksa. Tapi yang dua saksi di luar dari staf Yayasan Mulia," ujar Kanit Resmob Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat Iptu Avrilendy saat dimintai konfirmasi, Jumat (23/7/2021).

Dimintai konfirmasi secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono menyebut tiga orang tersebut merupakan hasil pengembangan dari pemeriksaan saksi-saksi sebelumnya.

"Iya (pengembangan) yang di Jakbar. Ini sekarang anggota lagi pada menyebar untuk melakukan pemeriksaan pengembangan," kata Joko.

Kasus ini mengemuka setelah sebuah curhatan berjudul 'diperas kartel kremasi' muncul di media sosial. Dalam tulisan itu disebutkan keluarga jenazah pasien COVID-19 harus mengeluarkan uang puluhan juta rupiah untuk biaya kremasi, pelarungan dan lain-lain.

Bersama dengan tulisan itu beredar pula foto kuitansi Rumah Duka Abadi. Terkait hal itu, Rumah Duka Abadi sudah angkat bicara.

Simak penjelasan Rumah Duka Abadi di halaman selanjutnya

Tonton juga Video: Heboh Warga di Bondowoso Rebut Jenazah Corona-Peti Dibakar

[Gambas:Video 20detik]