Satgas Ajak Masyarakat Lindungi Kesehatan Jiwa Anak Saat Pandemi

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 22:29 WIB
Hari Anak Nasional 2021 Diperingati Tiap 23 Juli, Ini Sejarah
Foto: Ari Saputra/detikcom
Jakarta -

Satgas COVID-19 mengajak masyarakat untuk melindungi kesehatan jiwa anak di masa pandemi ini. Menurut Ketua BKR Satgas COVID-19 Andre Rahadian, situasi pandemi tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, melainkan juga pada aspek sosial dan edukasi bagi anak-anak.

"Dampaknya kemampuan pertumbuhan anak menjadi terhambat dan hal ini menjadi satu tantangan ekstra bagi orang tua dalam membimbing anaknya. Oleh karena itu, melalui acara Seminar Nasional bersama para narasumber ahli diharapkan dapat tercipta rumusan dan usulan action plan untuk menjaga kesehatan jiwa anak-anak terutama anak disabilitas," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/7/2021).

"Saya juga menitipkan pesan kepada keluarga Indonesia untuk terus taat menerapkan protokol kesehatan sebagai contoh positif untuk diadaptasi oleh seluruh anak-anak," imbuhnya dalam Seminar Nasional Melindungi Kesehatan Jiwa Anak di Tengah Pandemi COVID-19 yang bertepatan dengan Hari Anak Nasional.

Sementara itu, Asisten Deputi Khusus Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Elvi Hendriani menyebut tanggung jawab untuk melindungi anak di masa pandemi perlu dilakukan bersama, mulai dari orang tua, masyarakat, hingga negara.

"Orang tua bertanggung jawab dalam hidup dan tumbuh kembang, negara berkepentingan untuk mendayagunakan sumber daya dalam melindungi anak dan haknya, masyarakat berpartisipasi dalam menerapkan tanggung jawab orang tua dan kewajiban negara, dan yang terakhir anak itu sendiri sebagai subjek yang harus sadar mengenai hak-hak yang diterimanya," terangnya.

Di sisi lain, Psikolog Anak, Dr. Seto Mulyadi, S.Psi, M.Si menyoroti keterbatasan aktivitas anak selama pandemi. Menurutnya di masa pandemi COVID-19, anak menjadi tidak bebas bermain dan belajar di luar karena aktivitas pembelajaran dilakukan secara daring. Akibatnya anak-anak cenderung merasa membosankan sehingga menyebabkan hasil belajar menjadi tidak optimal.

"Dampaknya anak-anak menjadi gelisah, susah tidur, bosan, malas belajar, dan suka marah. Untuk menjawab permasalahan ini orang tua dan guru memegang peranan penting untuk mampu menciptakan suasana belajar yang lebih ramah anak serta membuat kurikulum pendidikan yang lebih berpihak pada hak anak," paparnya.

Selain itu, ia menilai kondisi pandemi menyebabkan keluarga rentan mengalami konflik, yang bisa berujung pada kekerasan terhadap anak. Untuk itu, ia mendorong orang tua untuk menciptakan suasana rumah yang ramah bagi anak-anak.

"Lebih jauh lagi, diharapkan orang tua dapat menjadi sosok idola anak dengan mencontohkan sikap dan perbuatan yang bijak dan positif sesuai dengan zamannya. Saya yakin kita semua dapat belajar. Stop kekerasan dalam dunia pendidikan dan wujudkan impian kondisi rumah yang ramah anak," jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Yayasan Peduli Sindroma Down Indonesia (YAPESDI) Dewi Tjakrawinata. Dewi menilai anak-anak, terutama anak penyandang disabilitas perlu perhatian dan kasih sayang ekstra selama pandemi. Hal ini guna menjaga kesehatan mental mereka tetap stabil.

"Selama pandemi COVID- 19, anak-anak disabilitas memerlukan perhatian dan cinta yang ekstra guna memberikan kenyamanan serta pengertian mengenai virus COVID-19. Banyak aduan dari orangtua yang mengatakan bahwa anaknya menjadi sedih dan kehilangan semangat, bahkan ada anak yang sifatnya berubah menjadi pemarah karena kecewa tidak bisa keluar rumah untuk bersosialisasi," tuturnya.

Dikatakannya, orang tua bisa mengajarkan anak cara untuk mengelola emosi mereka secara positif. Serta mengisi waktu di rumah dengan kegiatan yang menyenangkan.

"Untuk melindungi kesehatan mentalnya, perlu diajarkan mengenai cara mengelola emosi secara positif, mengenali emosi diri sendiri dan orang lain, cara untuk tetap gembira selama pandemi (melalui kegiatan menari, menyanyi, menulis surat cinta untuk orang tua, dll), mengajak anak mengisi waktu dengan kegiatan secara positif, dan mengurangi waktu bermain media sosial," terangnya.

Untuk diketahui, Seminar Nasional dengan tema 'Melindungi Kesehatan Jiwa Anak di Tengah Pandemi COVID-19' merupakan Seminar Nasional kedua yang diadakan oleh BKR Satgas COVID-19. Selain itu, BKR Satgas COVID- 19 juga menyelenggarakan Webinar Relawan Berperan yang diselenggarakan rutin setiap minggu.

Adapun program lain yang dilakukan yaitu Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk mendampingi masyarakat umum, kelompok rentan (lansia, anak, dan disabilitas) dan tenaga kesehatan yang membutuhkan pelayanan terkait kondisi psikososial di masa pandemi melalui nomor 081211084053.

Selanjutnya, dibentuk pula Layanan Ambulans bersama HIPGABI yang beroperasi di Jabodetabek dengan menghubungi narahubung 081267575644/ 08179774600. Selain itu, dalam minggu ini telah dilakukan pula edukasi protokol Kesehatan dan pembagian masker sebanyak 175.000 di 13 titik zona merah.

(akd/ega)