Polisi Ungkap Ada Praktik Percaloan di Balik Viral 'Kartel Kremasi'

Karin Nur Secha - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 19:53 WIB
Polisi ungkap adanya praktik percaloan di balik viral kartel kremasi
Foto: Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi (Dok.Polres Jakbar)
Jakarta -

Polres Metro Jakarta Barat mengungkap fakta baru terkait viral 'diperas kartel kremasi'. Polisi menemukan adanya praktik percaloan dalam dugaan pemerasan itu, tapi tidak terorganisir ataupun melibatkan kartel.

"Kesimpulan sementara hasil pemeriksaan tersebut ada dugaan praktik percaloan di sini atau makelar. Tapi sifatnya pribadi bukan terorganisir seperti kartel atau tidak ada kerjasama di antara mereka," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Joko Dwi Harsono kepada wartawan, Jumat (23/7/2021).

Joko mengatakan saat ini penyidik masih mengembangkan hasil penyelidikan tersebut. Polisi berencana memeriksa pihak-pihak lain yang diduga terlibat.

"Kemudian kita masih mengembangkan pihak-pihak lain yang bisa kita ambil atau mintai keterangan terkait perkara viral ini," kata Joko.

Motif Cari Keuntungan

Terkait modus operandi para pelaku adalah mencari informasi dari orang-orang yang ingin mengkremasikan jenazah keluarganya yang terkena COVID-19. Ini dikarenakan banyak orang yang membutuhkan jasa kremasi tersebut.

"Mereka menaikkan harga dengan motif mencari keuntungan, itu yang dapat kami update," ucap Joko.

Penjelasan Rumah Duka Abadi

Dalam keterangan resmi dari Marketing dan Bisnis Development Rumah Duka Abadi, Indra Palus, yang diterima, Kamis (22/7/2021), Rumah Duka Abadi menegaskan status mereka sebagai yayasan dan bukan krematorium. Rumah Duka Abadi memang memberikan jasa pemulasaraan jenazah, tetapi dalam kasus ini, Rumah Duka Abadi mengaku hanya membantu mencari jalan agar keluarga mendiang mendapat akses ke krematorium.

"Pada hari Rabu, tanggal 14 Juli 2021, keluarga jenazah dari almarhum Tn. Kenny almarhum menghubungi Rumah Duka Abadi di Jalan Daan Mogot Jakarta Barat, meminta jasa pemulasaraan jenazah. Selain meminta jasa pemulasaraan jenazah, keluarga jenazah meminta bantuan Rumah Duka Abadi untuk mencarikan krematorium. Keluarga jenazah mengatakan bahwa krematorium-krematorium yang ada di Jakarta dan sekitarnya sudah dihubungi, tetapi semuanya menolak dengan alasan sudah penuh atau tidak menerima jasad jenazah COVID," ujar Indra.

Lihat juga video 'Intip Pembangunan Krematorium Gratis Buat Warga di TPU Tegal Alur':

[Gambas:Video 20detik]



Simak selengkapnya di halaman selanjutnya