Soroti Penurunan Jumlah Tes, Syarief Hasan: Seolah COVID-19 Sudah Turun

Khoirul Anam - detikNews
Jumat, 23 Jul 2021 17:51 WIB
Syarief Hasan
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan mempertanyakan adanya tren penurunan testing COVID-19, baik yang menggunakan tes PCR/TCM maupun tes antigen. Menurutnya, penurunan spesimen testing yang menyebabkan penurunan angka COVID-19 berpotensi menimbulkan penyalahgunaan data COVID-19.

Ia pun mengulas angka testing pada 16 Juli sebanyak 258.532 spesimen, 17 Juli sebanyak 251.392 spesimen, 18 Juli sebanyak 192.918 spesimen, 19 Juli sebanyak 160.686 spesimen, 20 Juli sebanyak 179.278 spesimen, dan 21 Juli sebanyak 153.330 spesimen. Akibat penurunan tersebut, kata dia, angka positif COVID-19 yang terdeteksi semakin berkurang dan berpotensi menyebabkan kesalahan data laju penyebaran virus. Ia kemudian menyarankan pemerintah seharusnya memperbanyak testing untuk melokalisir COVID-19 di Indonesia.

"Harusnya pemerintah semakin memperbanyak orang/spesimen yang dites sehingga kasus positif dapat dideteksi, di-tracking, dan dilokalisir, serta tidak semakin menyebar ke mana-mana," ungkap Syarief dalam keterangannya, Jumat (23/7/2021).

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga meminta pemerintah untuk menurunkan biaya tes PCR maupun tes antigen di beberapa daerah.

"Bahkan, pemerintah harusnya mendorong agar harga tes PCR maupun antigen dapat ditekan sehingga masyarakat dapat secara mandiri menjangkau dan melakukan tes COVID-19," ungkapnya.

Syarief menilai, tren penurunan testing sangat berbahaya karena menimbulkan anggapan bahwa kasus COVID-19 melandai.

"Penurunan tes COVID-19 sangat berbahaya karena bisa menimbulkan munculnya persepsi bahwa COVID-19 telah menurun sehingga masyarakat beraktivitas seolah COVID-19 sudah menurun. Padahal, COVID-19 belum menunjukkan penurunan kasus positif yang sangat signifikan. Angkanya masih di atas 30.000 kasus per hari," lanjutnya.

Data Satgas Penanganan COVID-19 menunjukkan bahwa kasus harian pada Kamis, (22/7) mencapai 49.509 kasus dengan jumlah testing sebanyak 294.470 spesimen. Angka kasus tersebut mengalami kenaikan dari hari sebelumnya yang mencapai 33.772 kasus dengan jumlah testing hanya sebesar 153.330 spesimen. Adapun angka ini menambah total COVID-19 di Indonesia yang telah mencapai 3 juta kasus dan kematian sebanyak 79.032 kasus.

Lebih lanjut, politisi senior Partai Demokrat ini mendorong pemerintah untuk memperketat protokol kesehatan.

"Pemerintah harus tegas dan humanis dalam menegakkan protokol kesehatan. Kami juga mendukung langkah pemerintah yang melarang masuknya WNA. Meskipun kami sejak awal sudah mendorong agar WNA segera dilarang, namun pelarangan tersebut baru dilakukan setelah kasus semakin tinggi," ungkapnya.

Syarief juga mendorong agar pemerintah memperhatikan tingkat positif COVID-19 di Indonesia.

"Positivity rate COVID-19 di Indonesia dalam beberapa pekan belakangan masih berada di atas 30%, jauh di atas standar maksimum yang ditetapkan WHO sebesar maksimal 5%. Lakukan testing secara optimal sembari pengetatan protokol kesehatan sehingga laju penyebaran COVID-19 dapat segera menurun," tutupnya.

(akn/ega)